من فاتته الجمعة ماذا يصلي ؟
Orang yang tertinggal shalat jum’at, Apakah Shalat yang harus ia Kerjakan?
Dinukil dari Kitab Al-Ajwibah An-Nafi’ah Kary. Syeikh AL-Albany Rahimahullohu Ta’ala
الجمعة فريضة من الله عز وجل فرضها على عباده ، فإذا فأتت لعذر فلابد من دليل على وجوب صلاة الظهر ، وفي حديث ابن مسعود (( ومن فاتته الركعتان فليصل أربعاً )) ( 1 ). فهذا يدل على أن ما فاتته الجمعة صلىَّ ظهراً
Shalat Jum’at merupakan kewajiban yang ditetapkan oleh Allah kepada hamba-Nya, seandainya seseorang tertinggal melakukannya karena alasan yang benar, maka hendaknya ada satu dalil yang menunjukkan bahwa ia wajib menggantikannya dengan shalat Zhuhur. Telah diriwayatkan di dalam hadits Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu,
“Artinya : Maka barangsiapa tertinggal dua raka’at (Jum’at), maka ia harus menggantikannya dengan melakukan empat raka’at” [1] Hadits ini menunjukkan bahwa orang yang tertinggal dengan tidak melakukan shalat Jum’at, maka ia harus menggantikannya dengan melakukan shalat Zhuhur.
وأما ما ذكره أهل الفروع من فوائد الخلاف في هذه المسألة ، فلا أصل لشيء من ذلك .
Adapun yang diungkapkan oleh para ulama ahli furu’ (fiqih) berupa faidah perbedaan di dalam masalah ini, sama sekali tidak ada dasarnya.
——————————————————– footnote [1]
قلت : رواه ابن أبي شيبه في “المصنف” (1/126/1) والطبراني في “الكبير” (2/38/2) واللفظ له من طرق عن أبى الأحوص عن ابن مسعود . وبعض طرقه صحيح وحسنه الهيثمي في “المجمع” (2/192) ، ولعل استدلال المؤلف بحديث ابن مسعود مع أنه موقوف إنما هو بسبب أنه لا يعرف له مخالف من الصحابة ، ومؤيد بمفهوم حديث ابي هريرة الآتي قريباً ويشهد له ما في “المصنف” (1/206/1) بسند صحيح عن عبد الرحمن بن أبي ذؤيب قال : خرجت مع الزبير مخرجاً يوم الجمعة فصلى الجمعة أربعاً . وعبد الرحمن هذا هو ابن عبد الله بن أبي ذؤيب ذكره ابن حبان في “الثقات” (6/122/1)
وقال : “كان يتيماً في حجر الزبير بن العوام” .
وفي حديث ابن مسعود إشارة إلى أن الظهر هي الأصل ، وأنها هي الواجبة على من لم يصل الجمعة . ويؤيد ذلك أمور
[1]. Komentar saya (Syeikh Al-AlBany): “Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam kitab al-Mushannaf (I/126/1), ath-Thabrani di dalam kitab al-Kabiir (III/38/2) dengan lafazh miliknya dari beberapa jalan dari Abu al-Ahwash dari Ibnu Mas’ud, sebagian jalannya shahih dan dihasankan oleh al-Haitsami di dalam kitab al-Majma’ (II/192), saya kira alasan penulis menjadikan hadits ini sebagai dalil padahal hadits ini mauquf adalah karena ia sama sekali tidak mengetahui adanya Sahabat yang menyelisihinya, hadits ini diperkuat oleh hadits Abu Hurairah yang akan diungkapkan, diperkuat pula oleh satu hadits yang diungkapkan di dalam kitab al-Mushannaf (I/206/1) dengan sanad yang shahih dari ‘Abdurrahman bin Abu Dzuaib, beliau berkata:
خرجت مع الزبير مخرجاً يوم الجمعة فصلى الجمعة أربعاً
“Aku keluar menuju masjid bersama az-Zubair dengan terlambat pada hari Jum’at, lalu beliau melakukan shalat Dzuhur sebanyak empat raka’at.”
‘Abdurrahman yang ada di dalam sanad atsar ini adalah Ibnu ‘Abdillah bin Abi Dzuaib, Ibnu Hibban menyebutkannya dalam kitab ats-Tsiqaat (VI/122), beliau berkata: “Ia adalah seorang yatim yang diasuh oleh az-Zubair bin al-‘Awwam.
Hadits Ibnu Mas’ud memberikan isyarat bahwa hukum asal-nya adalah shalat Zhuhur, dan itulah yang wajib dilaksanakan bagi orang yang tertinggal shalat Jum’at. Pendapat ini diperkuat dengan beberapa alasan:
الأول : ما هو معلوم يقيناً أن النبي وأصحابه كانوا يصلون يوم الجمعة الظهر إذا كانوا في سفر، ولكنهم يصلونها قصراً ،
فلو كان الأصل يوم الجمعة صلاة الجمعة لصلوها جمعة .
Pertama, sebagaimana dimaklumi bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan para Sahabatnya melakukan shalat Zhuhur pada hari Jum’at ketika beliau berada dalam safar (perjalanan), akan tetapi mereka melakukannya secara qashar, seandainya shalat yang dilakukan pada hari Jum’at asalnya adalah shalat Jum’at, niscaya beliau akan melakukannya walaupun ada di dalam sebuah safar (perjalanan).
الثاني : قال عبد الله بن معدان عن جدته قالت : قال لنا عبد الله بن مسعود : ( إذا صليتن يوم الجمعة مع الإمام فصلين بصلاته ، وإذا صليتن في بيوتكن فصلين أربعاً )
Kedua, ‘Abdullah bin Ma’dan meriwayatkan dari neneknya, dia berkata bahwa ‘Abdullah bin Mas’ud berkata kepada kami:
إذا صليتن يوم الجمعة مع الإمام فصلين بصلاته ، وإذا صليتن في بيوتكن فصلين أربعاً
“Jika kalian melakukan shalat Jum’at beserta imam, maka lakuanlah seperti shalatnya imam, dan jika kalian melakukannya di rumah kalian, maka lakukanlah dengan empat raka’at.”
أخرجه ابن أبي شيبة (1/207/2) ، وإسناده صحيح إلى جدة ابن معدان ، وأما هي فلم أعرفها . والظاهر أنها تابعية ، وليست صحابية ، لكن يشهد له ، قول الحسن في المرأة تحضر المسجد يوم الجمعة أنها تصلي بصلاة الإمام ، ويجزيها ذلك . وفي رواية عنه قال : “كن النساء يجمعن مع النبي وكان يقال : لا تخرجن إلا تفلت لا يوجد منكن ريح طيب ” . وإسنادهما صحيح وفي أخرى من طريق أشعث عن الحسن قال : “كن نساء المهاجرين يصلين الجمعة مع رسول الله ثم يحتسبن بها من الظهر ” .
قلت : فمن زعم أن الأصل يوم الجمعة إنما هو صلاة الجمعة ، وإن من فاتته ، أو لم تجب عليه ، كالمسافر والمرأة إنما يصلون ركعتين جمعة ، فقد خالف هذه النصوص بدون حجة . ثم رأيت الصنعاني ذكر (2/74) نحو هذا وإن الجمعة إذا فاتت وجب الظهر إجماعاً فهي البدل عنه ، قال وقد حققناه في رسالة مستقلة
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah (I/207/2), dan sanadnya shahih kepada nenek Ibnu Ma’dan, adapun dia, aku tidak mengenalnya. Yang jelas dia adalah seorang Tabi’in dan bukan Sahabat. Akan tetapi hadits ini diperkuat oleh riwayat dari al-Hasan tentang seorang wanita yang hadir di dalam masjid pada hari Jum’at bahwa ia cukup dengan melakukan shalat seperti shalatnya imam. Di dalam riwayat lain, beliau berkata:
كن النساء يجمعن مع النبي وكان يقال : لا تخرجن إلا تفلت لا يوجد منكن ريح طيب
“Para wanita pada zaman Nabi keluar bersama Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam, dan dikatakan kepada mereka, “Janganlah kalian keluar kecuali tafalaat, yakni tidak memakai wewangian sama sekali.” Sanad hadits ini shahih.
Sedangkan di dalam riwayat lain dari jalan Asy’ats dari al-Hasan, beliau berkata:
كن نساء المهاجرين يصلين الجمعة مع رسول الله ثم يحتسبن بها من الظهر
“Dahulu para wanita Muhajirin melakukan shalat Jum’at bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian mereka meninggalkan shalat Zhuhur, karena merasa cukup dengan shalat Jum’at.”
Komentar saya (Syeikh Al-Albany) : Barangsiapa berpendapat bahwa hukum asal shalat pada hari Jum’at adalah shalat Jum’at dan orang yang ketinggalan melakukannya atau orang yang tidak wajib atasnya shalat Jum’at -seperti orang yang sedang dalam perjalanan dan wanita-, maka wajib baginya hanya melakukan dua raka’at shalat Jum’at, sungguh orang yang berpendapat demikian telah menyalahi nash tanpa alasan. Kemudian saya melihat ash-Shan’ani menuturkan dalam Kitab Subulussalam (II/54 Penerbit Maktabah Dahlan, Bandung-Pen) seperti itu dan sesungguhnya orang yang ketinggalan dan tidak melakukan shalat Jum’at, maka ia harus melakukan shalat Zhuhur menurut kesepakatan para ulama, karena ia adalah penggantinya, dan inilah pendapat yang disepakati (ijma’). Demikianlah yang beliau ucapkan, dan kami telah mentahqiqnya di dalam risalah tersendiri.
———————————————————————-
Menurut saya (Abu Aqil Al-Atsy), Argumen mereka yang berpendapat bahwa orang yang tidak mendapat shalat jum’at, lantas dia shalat dirumah dengan 2 rakaat (shalat jum’at) adalah lemah dari berbagai sisi, Perhatikan hadits pensyariatan Shalat Jum’at berikut
الجمعة حق واجب على كل مسلم في جماعة إلا أربعة عبد مملوك أو امرأة أو صبي أو مريض
Shalat Jum’at itu wajib bagi setiap muslim dengan berjama’ah kecuali empat orang : hamba sahaya, wanita, anak-anak dan orang yang sedang sakit” [HR. Abu Dawud, Telah diShahihkan oleh Muhaditsin lebih dari 1 orang]
Bagaimana mungkin orang yang tidak berjamaah itu mengerjakan shalat Jumat dirumah dengan tanpa jama’ah? Padahal telah jelas dalam hadits tersebut bahwa Shalat Jum’at itu wajib bagi seluruh muslimin dengan berjama’ah, Maka renungkanlah dhahir hadits tersebut.
Bahkan Ash-shan’ani dalam Subulussalam (II/54) mengatakan :
أن الجمعة لا تصح بلا جماعة إجماعا
Sesungguhnya Telah menjadi kesepakatan (ijma’) bahwa shalat jum’at tidak shah, kecuali bila dikerjakan dengan berjamaah.
Maka menurut saya (Abu Aqil Al-Atsy) telah jelas kelemahan pendapat mereka yang mengatakan bahwa bagi para wanita dan mereka yang tidak mengerjakan shalat jum’at karena udzur, mencukupi hanya dengan shalat 2 raka’at (shalat jum’at) dirumah. Hal ini tertolak, lagi pula dinamakan “Shalat Jum’at” karena memang shalat tersebut disyari’atkan dengan berjamaah, dan tidak ada shalat jum’at jika dikerjakan sendiri. wallohul musta’an.
Argumen mereka bahwa pernah terjadi para shahabat tidak mendapatkan shalat jum’at namun tidak mengerjakan shalat 4 rakaat (shalat dzuhur), hal ini telah dijawab oleh
Syeikh Al-Bany sebagaimana yang tersebut diatas,
أن النبي وأصحابه كانوا يصلون يوم الجمعة الظهر إذا كانوا في سفر، ولكنهم يصلونها قصراً
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan para Sahabatnya melakukan shalat Zhuhur pada hari Jum’at ketika beliau berada dalam safar (perjalanan), akan tetapi mereka melakukannya secara qashar
Hal senada juga ditegaskan oleh Hadits Shahih yang diriwayatkan oleh At-Thabrany dan dishahihkan oleh Syeikh Al-Bany dalam Shahihul Jami’ (5405)
ليس على المسافر جمعة
“Tidak ada kewajiban Shalat Jumat bagi Musafir”
Maka menurut saya (Abu Aqil Al-Atsy) Pengerjaan shalat 2 rakaat yang dilakukan oleh sahabat pada hari jum’at saat mereka musafir adalah shalat dzuhur yang diqashar, dan jika dikatakan bahwa yang mereka kerjakan adalah shalat jum’at maka hal ini bertentangan dengan hadits shahih riwayat At-Thabrany tersebut bahwa tidak ada kewajiban musafir untuk shalat jum’at.
Ash-Shan’ani juga menerangkan dalam Kitabnya (II/54) ;
ثم القول بأن الأصل في يوم الجمعة صلاة الجمعة ، والظهر بدل عنها قول مرجوح ، بل الظهر هو الفرض الأصلي المفروض ليلة الإسراء ، والجمعة متأخر فرضها ، ثم إذا فاتت الجمعة وجب الظهر إجماعاً ، فهي – الجمعة – بدل عنه
“Maka pendapat yang mengatakan bahwa Asal (Dasarnya) dihari jum’at adalah Shalat Jum’at, dan dzuhur telah digantikan oleh shalat jum’at adalah pendapat yang Marjuh (Lemah). Tetapi (pendapat yang kuat) adalah Dzuhur itu adalah Kewajiban Asal yang diwajibkan sejak Malam Isra’, dan shalat jum’at disyariatkan setelahnya. Kemudian apabila seseorang luput dari shalat jum’at maka wajib ia mengerjakan shalat dzuhur sesuai Ijma’. Karena shalat jum’at menggantikan shalat dzuhur. [subulussalam II/54]
Maraji’ ;
1. Al-Ajwibah An-Nafi’ah Kary. Syeikh Al-Albany
2. Subulussalam Kary. Ash-Shan’ani
3. Shahihul Jami’ Kary. Syeikh Al-Albany
4. ijtima’ Al-Aidain Kary.Abu Abdullah ‘Abid bin Abdullah As-Sa’dun http://www.saaid.net/mktarat/eid/42.doc
Filed under: fiqh


Komentar