Apa perbedaan antara kaum muslimin dan Ahmadiyah?
Filed under: Fatwa
Februari 28, 2008 • 4:18 am 1
Apa perbedaan antara kaum muslimin dan Ahmadiyah?
Filed under: Fatwa
Februari 24, 2008 • 2:34 am 0
“Sekarang orang-orang kafir banyak yang berjenggot, lihat saja rabi-rabi kaum Yahudi, orang-orang agama Singh. Mereka semua berjenggot, jadi bagaimana mungkin dengan jenggot bisa membedakan kita dengan mereka? Bahkan seharusnya kita mencukur jenggot-jenggot kita agar berbeda dengan mereka (orang-orang kafir).”
Februari 22, 2008 • 10:26 am 0
Agama Islam adalah agama yang diridhoi oleh Allah Ta’ala. Dan tidak ada agama lain yang diterima dan diakui oleh-Nya selain Islam. Hal ini didasari dari banyaknya ayat-ayat yang jelas-jelas menegaskan bahwa Islam adalah Agama satu-satunya yang diridhoi oleh Alloh Ta’ala. Sebagaimana disebutkan dalam firmanNya
إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللّهِ الإِسْلاَمُ
Filed under: Extra
• 7:25 am 0
لا صلاة لجار المسجد إلا في المسجد
“Tidak ada sholat bagi tetangga masjid kecuali ia sholat di masjid”
Filed under: Fatwa
Februari 21, 2008 • 2:27 am 1
Maka Syeikh menjawab:
Februari 18, 2008 • 11:23 am 0
Buah pena Ustadzuna Muhammad Umar As-Sewed -hafidzahullohu ta’ala-
Orang-orang yang cerdas dan berilmu niscaya mengetahui betapa pentingnya kebersamaan. Sehingga mereka benar-benar menjaga kebersamaan dalam jamaah kaum muslimin dan penguasa (pemerintah)-nya. Adapun orang-orang yang bodoh, sama sekali tidak mengerti betapa pentingnya kehidupan berjamaah dengan satu penguasa. Bahkan mereka tidak mengerti mana yang lebih banyak antara satu dan sepuluh. Yakni, mana yang lebih besar antara korupsi, kolusi, atau nepotisme (KKN) dengan pertumpahan darah kaum muslimin dalam perang saudara.
Seorang yang berilmu mengetahui bahwa dengan mengikuti bimbingan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut penerapannya yang dicontohkan salafus shalih, pasti kaum muslimin akan terbimbing ke jalan yang terbaik. Maka, ia akan menghadapi penguasa yang dzalim dengan petunjuk dan bimbingan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sedangkan orang-orang yang bodoh berjalan bersama emosi dan hawa nafsunya, tanpa meminta bimbingan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka merasa lebih pandai dan lebih cerdas dari para nabi dan para ulama yang merupakan para pewarisnya. Merekalah kaum reaksioner Khawarij, yang selalu menyebabkan petaka dan bencana di setiap zaman. Mereka tidak memperbaiki keadaan –seperti pengakuan mereka– tetapi justru menghancurkan kebersamaan.
Banyak tulisan-tulisan mereka yang sampai kepada tangan penulis, dalam bentuk surat, selebaran, ataupun makalah-makalah. Hampir seluruhnya berisi “dalil-dalil” dan “bukti-bukti” tentang kafirnya penguasa, yang kemudian berujung menghalalkan darah mereka. Tentu saja dengan nama samaran, alamat palsu, dan penerbit yang tidak jelas. Namun seperti CD yang diputar ulang, isinya tetap sama seperti ucapan Khawarij yang pertama: “Siapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah maka ia kafir.”
Tentu saja jawaban kita Ahlus Sunnah seperti jawaban Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dan para shahabat yang lain: “Kalimat yang haq, namun yang dimaukan adalah kebatilan.” Yakni, ayat-ayat dan hadits-hadits dalam tulisan mereka adalah kalimat-kalimat yang haq dan kita tidak membantahnya. Namun, apa yang dimaukan dengannya?
Filed under: google124590ab
Februari 5, 2008 • 10:22 am 2
Hadits ini diriwayatkan oleh As-Suyuti dalam Jami’us Shoghir, Ad-Dailami dalam Musnad Al-firdaus, Al-Munawiy dalam Syarhul Jami’
Filed under: fiqh
Februari 4, 2008 • 8:07 am 0
Oleh : Abu Aqil Al-Atsary
Agama Islam adalah nasehat, dan salah satu bentuk dari sekian banyak bentuk-bentuk nasehat, adalah dakwah. Namun sebagaimana amalan-amalan lain yang dipahalai oleh Alloh Ta’ala, tentunya dakwah amar ma’ruf dan nahi mungkar mestilah dibarengi dengan ilmu tentangnya dan ilmu tentang apa yang diserukan. Misalnya, jika seseorang mengajak orang lain untuk mendirikan sholat, maka seharusnya si pengajak (da’i) terlebih dahulu mengerti dan memahami segala ilmu tentangnya, sejak dari dalil-dalil pensyariatan sholat hingga tatacara sholat yang benar-benar sesuai petunjuk Rasululloh shallallohu ‘alaihi wasallam.
Hal inilah yang seringkali diacuhkan begitu saja oleh para da’i dewasa ini. Maka satu dari sekian banyak ketentuan yang harus ada dalam diri seorang da’i adalah ilmu tentang apa yang sedang dan yang akan ia serukan.
Filed under: Extra, Manhaj Salaf
Februari 2, 2008 • 2:00 am 5
Filed under: Extra
Komentar