Abu Aqil di Langsa

Icon

Meniti Jejak Ahlussunnah wal Jama'ah

Bacaan Amin bagi Makmum Menurut Asy-Syafi’ie

Al-Imam Asy-Syafi’ie Rahimahullohu Ta’ala berkata dalam kitab Al-Umm (I/65) mengenai bacaan “Amin” yang dibaca oleh orang shalat dibelakang imam (makmum).

قال الإمام الشافعي في ” الأم ” ( 1 / 65
فَإِذَا فَرَغَ الْإِمَامُ مِنْ قِرَاءَةِ أُمِّ الْقُرْآنِ قَالَ‏:‏ آمِينَ، وَرَفَعَ بِهَا صَوْتَهُ لِيَقْتَدِيَ بِهِ مَنْ كَانَ خَلْفَهُ فَإِذَا قَالَهَا قَالُوهَا وَأَسْمَعُوا أَنْفُسَهُمْ وَلاَ أُحِبُّ أَنْ يَجْهَرُوا بِهَا فَإِنْ فَعَلُوا فَلاَ شَيْءَ عَلَيْهِمْ

“Maka apabila imam selesai membaca Ummul Qur’an (AlFatihah), kemudian ia mengucapkan “Amin” dengan menyaringkan suaranya, agar diikuti oleh orang yang berada dibelakangnya. Jika imam mengucapkan “Amin”, maka mereka pun mengucapkannya sekira-kira hanya didengar oleh mereka sendiri. Dan saya tidak menyukai mereka (makmum) menyaringkan suara, dan jika mereka menyaringkannya juga, maka tidaklah mengapa.”

http://www.al-eman.com/IslamLib/viewchp.asp?BID=404&CID=7#s14

Adapun pendapat Imam Syafi’ie ini didasari oleh ketiadaannya hadits-hadits atau atsar yang shohih tentang syariat menyaringkan bacaan “Amin” oleh makmum.

Hal inilah yang kemudian dikuatkan oleh Al-Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albany Rahimahullohu Ta’ala dalam Tamamul Minnah (I/213).

Syeikh Al-Albany Rahimahulloh Ta’ala berkata, “Bacaan Amin sebagaimana dimaklumi adalah merupakan do’a dan hukum asal do’a itu dilirihkan membacanya sebagaimana Firman Alloh Ta’ala dalam Al-A’raf : 55

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

“Berdo’alah kepada Tuhanmu dengan rendah diri dan rasa takut, Sesungguhnya Dia (Alloh) tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”

Dari ayat tersebut, maka kita tidak boleh keluar dari hukum asal, kecuali berdasarkan dalil yang shohih. Dan kami telah keluar dari hukum asal dalam masalah “Amin”nya Imam dengan suara nyaring karena telah dicontohkan oleh Nabi Shallallohu ‘alaihi wasallam. Dan kami berhenti pada hukum asal mengenai bacaan “Amin” oleh makmum yakni tetap dibaca lirih/pelan.” [Tamamul Minnah I/213]

Filed under: fiqh

Leave a Reply