Abu Aqil di Langsa

Ikon

Dari Kota Langsa, Aceh, Indonesia

Hadis – Hadis Tentang Kurikulum Pendidikan

Hadis – Hadis Tentang Kurikulum Pendidikan

A. Pendahuluan
Hadis Nabi SAW merupakan sumber kedua ajaran Islam sesudah kitab suci al-Qur’an. Semua ayat al-Qur’an diterima oleh para sahabat dari Rasulullah SAW secara mutawatir, ditulis dan dikumpulkan sejak zaman Nabi SAW masih hidup baik fi as-suthur (dalam tulisan) maupun fi ash-shudur (melalui hafalan), serta dibukukan secara resmi sejak zaman Abu Bakar Ash-Shiddiq RA (W. 13 H), karena itu al-Qur’an bersifat Qath’i al-subut.
Sedangkan Hadis Nabi SAW sebagian besarnya tidak diriwayatkan secara mutawatir. Pembukuannya secara resmi baru dilakukan pada zaman Khalifah ‘Umar bin ‘Abdul Aziz al-Umawiy (99/717-101/720), oleh karena itu Hadis bersifat dhann al-wurud. Tentunya untuk mengetahui orisinalitas dan kualitas sebuah Hadis, membutuhkan ilmu Hadis, baik ilmu Hadis Riwayah maupun Ilmu Hadis Dirayah.


Hadis sebagai sumber ajaran Islam yang kedua setelah al-Qur’an, merupakan sarana fungsionalis untuk menggali konsep kurikulum pendidikan Islam. Kurikulum merupakan salah satu komponen yang sangat menentukan dalam sistem pendidikan, karena kurikulum merupakan alat untuk mencapai tujuan sekaligus sebagai pedoman dalam pelaksanaan pendidikan pada semua jenjang tingkat pendidikan. Kurikulum yang baik dan relevan dalam rangka mencapai tujuan pendidikan Islam adalah yang bersifat integral dan komprehensif serta menjadikan al-Qur’an dan Hadis sebagai sumber utama dalam penyusunannya.
Untuk mencoba memahami konsep kurikulum pendidikan Islam dalam Hadis, pembahasan makalah ini dipusatkan pada makna-makna Hadis yang mengandung konsep kurikulum pendidikan baik secara mantuq maupun mafhum. Hal ini dilakukan, sehubungan tidak adanya kata kunci yang bermakna kurikulum (manhaj al-dirasah) atau sejenisnya yang ditemukan di dalam Hadis.

B. Pengertian Kurikulum
Secara etimologis, kurikulum berasal dari bahasa Yunani, yaitu curir yang artinya pelari dan curere yang berarti tempat berpacu. Jadi istilah kurikulum berasal dari dunia olah raga pada zaman Romawi Kuno di Yunani, yang mengandung pengertian suatu jarak yang harus ditempuh oleh pelari dari garis start sampai garis finish.(Hasan Langgulung, 1986:176).
Dalam bahasa Arab, kata kurikulum biasa diungkapkan dengan manhaj al-dirasah, yang berarti jalan yang terang yang dilalui manusia pada berbagai bidang kehidupan. Sedangkan kurikulum pendidikan (manhaj al-dirasah) dalam kamus tarbiyah adalah seperangkat perencanaan dan media yang dijadikan oleh lembaga pendidikan dalam mewujudkan tujuan-tujuan pendidikan.
Secara terminologis, para ahli telah banyak mendefenisikan kurikulum di antaranya:
a. Zakiah Daradjat berpendapat bahwa kurikulum sebagai suatu program yang direncanakan dalam bidang pendidikan dan dilaksanakan untuk mencapai sejumlah tujuan pendidikan tertentu. (Zakiah Daradjat, 1992:121).
b. Addamardasyi Sarhan dan Munir Kamil, sebagaimana dikutip al-Syaibani mengatakan bahwa kurikulum adalah sejumlah pengalaman pendidikan, kebudayaan, sosial, olah raga dan kesenian yang disediakan oleh sekolah bagi murid-muridnya di dalam dan di luar sekolah dengan maksud menolong untuk berkembang menyeluruh dalam segala segi dan merubah tingkah laku mereka sesuai dengan tujuan pendidikan. (Omar Muhammad al-Toumy al-Syaibani, 1979: 485)
c. S. Nasution menyatakan ada beberapa penafsiran lain tentang kurikulum. Diantaranya; pertama, kurikulum sebagai produk (sebagai hasil pengembangan kurikulum), kedua, kurikulum sebagai program (alat yang dilakukan sekolah untuk mencapai tujuan), ketiga,kurikulum sebagai hal-hal yang diharapkan akan dipelajari oleh siswa (sikap, keterampilan tertentu), dan keempat, kurikulum dipandang sebagai pengalaman siswa. (S. Nasution, 1994: 5-9)
Dari beberapa definisi di atas dapat kita pahami, ada pandangan yang menyatakan bahwa kurikulum hanya berisi rencana pelajaran di sekolah, ini karena mereka membedakan antara kegiatan kurikuler, kokurikuler dan ekstrakurikuler. Ada juga yang berpandangan bahwa kurikulum lebih dari sekedar rencana pelajaran tapi semua yang secara nyata terjadi dalam proses pendidikan di sekolah atau semua pengalaman belajar itulah kurikulum.
Menurut Mahmud Junus, berdasarkan Qur’an dan Hadis dapat diambil pengertian bahwa ada 3 (tiga) aspek kepribadian manusia yang harus dididik, yaitu: 1. Aspek jasmani, 2. Aspek akal, 3. Aspek rohani. )Ahmad Tafsir, 2007: 56(
Al-Syaibani dalam bukunya Filsafat Pendidikan Islam menetapkan bahwasanya ada 4 (empat) dasar pokok dalam kurikulum pendidikan Islam, yaitu dasar religi, dasar falsafah, dasar psikologis, dan dasar sosiologis, serta Abdul Mujib dalam bukunya Ilmu Pendidikan Islam menambahkan dengan dasar organisatoris. (Abdul Mujib, 2006:124)
C. Hadis- Hadis Tentang Kurikulum Pendidikan
Hasil penelusuran penulis dalam kitab hadis, tidak ada ditemukan kata khusus seperti manhaj al-dirasah sebagai kata yang menunjukkan kurikulum, karenanya penulis mencoba memahami kurikulum berdasarkan matan Hadis yang bermuatan konsep kurikulum baik secara mantuq maupun mafhum.
1. Ilmu agama dan Al-Qur’an
حَدَّثَنَا حَسَنُ بْنُ مُوسَى حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ أَبُو خَيْثَمَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُثْمَانَ بْنِ خُثَيْمٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَضَعَ يَدَهُ عَلَى كَتِفِي أَوْ عَلَى مَنْكِبِي شَكَّ سَعِيدٌ ثُمَّ قَالَ اللَّهُمَّ فَقِّهْهُ فِي الدِّينِ وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيلَ
تعليق شعيب الأرنؤوط : إسناده قوي على شرط مسلم
Artinya:Dari Ibnu ‘Abbas bahwasanya Rasulullah SAW meletakkan tanggannya pada punggung Ibnu ‘Abbas atau pundaknya, – perawi Hadis ini, Said ragu- kemudian Rasulullah SAW berdo’a: Ya Allah berikanlah kepadanya pemahaman yang mendalam tentang agama dan ajarilah dia takwil (al-Qur’an). (Ahmad ibn Hanbal Abu Abdullah al-Syiyabaani, tt: 266).

Ibnu ‘Abbas mengatakan bahwa Rasulullah SAW wafat, sedang usia Ibnu ‘Abbas memasuki 10 (sepuluh) tahun dan dia telah mempelajari ayat-ayat muhkam. Ibnu ‘Abbas telah mengatakan pula kepada Sa’id bin Jubair (muridnya): “aku telah menghimpun semua ayat-ayat muhkam pada masa Rasulullah SAW. Said bertanya kepadanya: “Apakah ayat-ayat muhkam itu? Ibnu ‘Abbas menjawab: “Surat-surat yang mufashal (yang pendek-pendek).
Ibnu Katsir ra telah mengatakan bahwa dengan interpretasi apapun makna hadis ini menunjukkan kebolehan mengajari anak-anak untuk membaca al-Qur’an meskipun dalam usia dini, bahkan adakalanya disunnahkan atau diwajibkan. (Jamaal ‘Abdur Rahman, 2005:392)
Selain itu al-Qur’an sendiri merupakan materi pertama yang harus diajarkan kepada siswa. Rasulullah SAW telah bersabda:
حَدَّثَنَا حَجَّاجُ بْنُ مِنْهَالٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ أَخْبَرَنِي عَلْقَمَةُ بْنُ مَرْثَدٍ سَمِعْتُ سَعْدَ بْنَ عُبَيْدَةَ عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ السُّلَمِيِّ عَنْ عُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ قَالَ وَأَقْرَأَ أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ فِي إِمْرَةِ عُثْمَانَ حَتَّى كَانَ الْحَجَّاجُ قَالَ وَذَاكَ الَّذِي أَقْعَدَنِي مَقْعَدِي هَذَا
Artinya:Telah menceritakan kepada kami hujjaj ibn Minhaal telah menceritakan syu’bah ia berkata ‘Alqamah ibn mursyid telah mengkhabarkan kepadaku saya mendengar Said ibn ‘Ubaidah dari ayah Abdurrahman al-silmy dari ‘Usman ra Nabi SAW telah bersabda: “Yang paling baik di antara kamu adalah orang yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya. (Muhammad bin Ismail Abu Abdillah al-Bukhari,1987:1919)

2. Shalat
Rasulullah SAW telah bersabda:
حدثنا مؤمل بن هشام يعني اليشكري ثنا إسماعيل عن سوار أبي حمزة قال أبو داود وهو سوار بن داود أبو حمزة المزني الصيرفي عن عمرو بن شعيب عن أبيه عن جده قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم “مروا أولادكم بالصلاة وهم أبناء سبع سنين واضربوهم عليها وهم أبناء عشر سنين وفرقوا بينهم في المضاجع
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muammal ibn Hisyam yaitu al-Yasykariy telah bercerita Isma’il dari Sawwar Abi Hamzah telah berkata Abu Dawud dan dia Sawwar ibn Daud Abu Hamzah al-Mazni as-Shirafi dari ‘Umar ibn Syu’aib dari ayahnya dari neneknya telah berkata: Bersabda rasulullah SAW” Suruhlah anak-anakmu melaksanakan shalat ketika berumur 7 (tujuh) tahun, dan pukullah mereka jika tidak mau melaksanakan shalat, dan pisahkan tempat tidur mereka (putra dan putri)”. (H.R. Abu Dawud) (Sulaiman ibn al-Asy’as Abu Daud al-sajastani al-ajdi, tt:187)

Hadis ini tergolong syarif marfu’ dan diriwayatkan melalui sanad perawi dengan kualitas sahih yang diriwayatkan melalui perawi-perawi sebagai berikut: Muammal bin Hisyam yaitu al-Yasykariy adalah periwayat yang tsiqah, Isma’il adalah periwayat yang tergolong tsiqah hafidh, Sawwar ibn Daud Abu Hamzah adalah periwayat yang tergolong shuduq lahu auham, ‘Umar ibn Syu’aib periwayat yang tergolong shuduq, ayahnya adalah periwayat yang memiliki tingkat shuduq, adapun neneknya adalah dari kalangan sahabat yang tidak lagi diragukan kualitasnya.
Hadis ini menegaskan bahwa, ketika seorang anak menginjak usia 10 tahun maka instink yang dimilikinya sedang menuju ke arah perkembangan dan ingin membuktikan eksistensi dirinya. Oleh karena itu, ia harus diperlakukan secara hati-hati dengan menyangkal semua penyebab kerusakan dan arah penyimpangan. Caranya antara lain dengan memisahkan tempat tidur mereka (putra dan putri). (Jamaal ‘Abd al-Rahman, 2005: 263)
Hal ini sejalan dengan teori yang diungkapkan Mahmud Junus bahwasanya aspek rohani termasuk dimensi yang harus dijadikan sebagai isi kurikulum dalam pendidikan melalui perintah shalat pada usia 7 (tujuh) tahun dan juga bersinggungan dengan dasar psikologis yang ditawarkan al-Syaibani sebagai dasar pokok dalam kurikulum pendidikan Islam
3. Kesenian
Suatu hari Khalifah Abu Bakar telah menghardik puterinya, Aisyah, ketika ia menyaksikan dua orang hamba sahaya menyanyi di rumah Rasulullah SAW, maka Rasulullah SAW bersabda:
حدثنا عبيد بن اسماعيل قال حدثنا أبو أسامة عن هشام عن أبيه عن عائشة رضي الله عنها قالت: دخل أبو بكر وعندي جاريتين من جواري الأنصار تغنيان بما تقاولت الأنصار يوم بعاث قالت وليستا بمغنيتين فقال أبو بكر أمزامير الشيطان في بيت رسول الله صلى الله عليه وسلم ؟ وذلك في يوم عيد فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم ( يا أبا بكر إن لكل قوم عيدا وهذا عيدنا
Berdasarkan Hadis di atas kita dapat mengetahui bahwa, kurikulum pendidikan Islam tidak mengabaikan perkembangan bakat seni dan pertumbuhan rasa keindahan. Malah sebaliknya ia sangat menaruh perhatian kepada kesenian dan memberinya peluang kajian serta pengalaman yang dapat menolong perkembangannya. Di samping kajian-kajian kesusasteraan, peluang-peluang untuk menghafal dan menikmati puisi serta prosa yang baik, pendidikan Islam memberi tempat yang luas pada kajian-kajian dan pengalaman-pengalaman yang cukup pada sebagian corak dan bidang seni rupa yang tidak menganggu akidah.
Kalau bukan karena perhatian pendidikan Islam dan kurikulum kesusasteraan dan seni, tentulah kita tidak mendapati peninggalan sastra dan kesenian yang ditinggalkan oleh ulama-ulama, sastrawan-sastrawan, dan seniman-seniman kita terdahulu; yang mengandrungi syair-syair, prosa-prosa gambar-gambar bukan benda hidup, ukiran-ukiran, perhiasan-perhiasan, ukiran-ukiran pada kayu, tembaga, tulisan-tulisan al-Quran, dan permulaan-permulaan surah al-Quran yang sangat indah. Begitu juga bentuk-bentuk kesenian, dan kajian dan penyelidikan-penyelidikan musik yang paling sempurna. Tanpa perhatian itu kita tidak akan mendapati ahli seniman-seniman Muslim terkenal yang mashur pada segala bidang sastra, seni dan musik. (Omar Muhammad al-Toumy al-Syaibani, 1979 :499)
4. Militer, Pendidikan Jasmani dan Kesehatan.
Pada masa Madinah, Nabi SAW telah memasukkan materi kesehatan dan kekuatan jasmani dalam kurikulum pendidikannya. Secara praktis (amaliah) shalat, wudhu’, mandi, puasa dan haji telah mengandung pendidikan kesehatan dan kekuatan fisik. Selain itu Nabi juga mengajarkan agar makan dan minum secara sederhana, tidak berlebihan. Nabi pun mengajak mempelajari cara berperang. Tentu saja tujuan utamanya untuk persiapan pembelaan diri. Beliau bersabda:
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا حَاتِمٌ عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي عُبَيْدٍ عَنْ سَلَمَةَ بْنِ الْأَكْوَعِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى نَفَرٍ مِنْ أَسْلَمَ يَنْتَضِلُونَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ارْمُوا بَنِي إِسْمَاعِيلَ فَإِنَّ أَبَاكُمْ كَانَ رَامِيًا ارْمُوا وَأَنَا مَعَ بَنِي فُلَانٍ قَالَ فَأَمْسَكَ أَحَدُ الْفَرِيقَيْنِ بِأَيْدِيهِمْ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا لَكُمْ لَا تَرْمُونَ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ نَرْمِي وَأَنْتَ مَعَهُمْ قَالَ ارْمُوا وَأَنَا مَعَكُمْ كُلِّكُمْ
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Qutaybah ibn Sa’id, telah bercerita Hatim dari yazid bin Abi ‘Ubaid dari salamah, telah menceritakan kepada kami samah ra berkata: Pada suatu hari Rasulullah SAW bersua dengan sekelompok orang dari Bani Aslam yang sedang berlomba memanah, maka beliau SAW bersabda: Memanahlah kalian, hai bani Ismail, sebab nenek moyangmu dahulu (Ibrahim As) adalah seorang pemanah.Panahlah dan saya bersama bani fulan. Maka salah satu kelompok berhenti. Rasul bersabda: kenapa kamu tidak memanah, maka mereka berkata: wahai Rasulullah SAW kami memamah tapi kamu memihak kepada mereka, Rasul pun bersabda: Panahlah dan saya bersama kalian semuanya (Muhammad bin Ismail Abu Abdillah al-Bukhari, 1987: Kitab Jihad No. 2684)

Berikut juga sebuah anjuran untuk memanfaatkan waktu luang anak dalam bentuk kegiatan yang berguna. Anak sebaiknya dianjurkan pula untuk melakukan perlombaan olah raga lainnya, seperti berlari, menunggang kuda dan berenang. Semua itu dapat menumbuhkan keberanian dan kehandalan dalam jiwa anak-anak sekaligus menghilangkan sifat pengecut. Sebagaimana Sabdanya:
حدثنا أحمد بن يونس ثنا ابن أبي ذئب عن نافع بن أبي نافع عن أبي هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ” لا سبق إلا في خف أو [ في ] حافر أو نصل.
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ahmad ibn Yunus berbicara kepada kami Ibn Abi dzi’bi dari naafi’ ibn Abi Naafi’ dari Abi Hurairah ra berkata: Rasulullah SAW telah bersabda: Tidak ada keunggulan kecuali dalam menunggang hewan.(Sulaiman ibn al-Asy’as Abu Daud as-syajastani al-Ajdi, Kitab Jihad no. 2210)

Memang sejarah telah mencatat peperangan sangat banyak terjadi di zaman pemerintahan Khalifah Umar ibn Khattab (13/634/23/644), dalam rangka ekspansi Islam. Untuk persiapan ini, maka beliau mengirimkan surat kepada para gubernur yang memerintahkan para orang tua untuk mengajarkan anak-anak mereka keterampilan berenang, kepandaian menunggang kuda, dan belajar melempar panah. (Abu al-Abbas Muhammad ibn Yaziz al-Mubarrid, tt:180)
Dengan keterampilan berenang dimaksudkan agar anak-anak Muslim bisa menjadi marinir-marinir yang handal. Begitu juga dengan kecakapan menunggang kuda agar anak-anak Muslim bisa menjadi pasukan infantri yang tangguh, dan dengan keterampilan melempar panah dimaksudkan agar mereka bisa menguasai peluru kendali. (Abd. Mukti, 2008:91). Semua hal ini ternyata sangat diperlukan untuk menjalankan alat peperangan di samping pendidikan jasmani, sebagaimana dikatakan Sulaiman Rasyid. Menurutnya, perintah menembak dengan panah (al-ramy) dalam Hadis tersebut di atas sangat berguna bagi gerak badan atau pendidikan jasmani.
Pengajaran memanah dan menunggang kuda menjelaskan bahwa Rasulullah SAW memasukkan aspek jasmani sebagai satu aspek yang dibina dalam kurikulum pendidikan. Pengajaran ini mempunyai faedah yang besar dalam menciptakan kesehatan mental dan memberi ruang untuk melampiaskan motivasi-motivasi serta keinginan-keinginannya, menciptakan kesehatan jasmani, keserasian, kekuatan dan pertumbuhan yang sesuai, serta mempersiapkan diri untuk menanggung kehidupan dan berjuang pada jalan Allah SWT.
Oleh sebab itu Islam mengajak untuk memiliki kekuatan yang halal dan menganggap orang mukmin yang kuat jasmani, rohani atau akal dan semangatnya, lebih dicintai Allah SWT dan lebih mulia dari pada orang mukmin yang lemah. Juga Islam mengajak untuk membela diri dan kehormatan dan mengajak untuk menghadapi musuh dan menghalanginya jika mereka mulai mengancam.
Di antara pendidik Islam yang menyanjung-nyanjung kepentingan pendidikan jasmani bagi kanak-kanak pada waktu kosong mereka adalah Imam al-Ghazali yang berkata dalam bab yang berjudul: “Latihan Jiwa dan Pendidikan Akhlak” dalam jilid ke 3 pada kitabnya “Ihya’ Ulumuddin
5. Keterampilan
Rasulullah SAW bersabda:
ان الله يحب اذا عمل أحدكم العمل أن يتقنه”
Artinya: Sesungguhnya Allah suka jika seseorang mengerjakan sesuatu pekerjaan bahwa membuatnya dengan baik (professional).”

Pendidikan Islam juga menaruh perhatian pada ilmu teknik, praktis dan pada latihan-latihan kejuruan dan pertukangan. Perhatiannya tidak hanya terbatas pada ilmu-ilmu dan kajian-kajian teoritis yang diperoleh melalui pengajaran dan kajian teoritis pada cara-cara dan sumber-sumber tertulis yang banyak mengunakan pemikiran abstrak. Pendidikan Islam tetap mementingkan ilmu-ilmu praktis di mana pelajar menggunakan akal, tangan dan jari-jarinya. Ia bersentuhan dengan benda-benda kasar selama mengkaji dan melatih diri, yang akhirnya menyiapkan untuk mengembangkan keterampilan tangan (manual dexterity) dan menciptakan produksi yang baik.
Ibnu Sina, dalam salah satu kitabnya berkata: “kalau kanak-kanak sudah siap mempelajari al-Qur’an dan telah menghafal prinsip-prinsip bahasa, maka pada waktu itu hendaklah ditinjau akan ke manakah anak itu dijuruskan dalam segi pekerjaan. Kalau ia mau menjadi penulis maka hendaklah ditambahkan untuknya pelajaran bahasa Arab, berupa pelajaran persuratan (rasail) pidato (khutbah), perdebatan (muhawarah), dan lain-lain, kemudian diajar hitungan syair-syair dan tulisan halus. Kalau ia ingin yang lain maka ia harus memperbanyak pelajaran pada bidang itu. (Omar Muhammad al-Toumy al-Syaibani, 1979: 508)
6. Bahasa, filsafat, astronomi, matematika dan kedokteran
Hadis Nabi SAW menggunakan perkataan السريانية adalah untuk menggungkapkan Bahasa Suryani. AJ. Wensinck di dalam kitabnya yang berjudul: al-Muj’am al-Mufahras li Al-fadz al-Hadis al-Nabawi, mencatat bahwa, perkataan al-suryaniyyat tersebut dijumpai dalam beberapa kitab Hadis, salah satu diantaranya adalah kitab : al-Jami’ al-Sahih, Jilid 1, bab Fi Ta’lum al-Suryaniyyat karya al-Tirmidzi, sebagai berikut:
حدثنا علي بن حجر أخبرنا عبد الرحمن بن أبي الزناد عن أبيه عن خارجة بن زيد عن ثابت عن أبيه زيد بن ثابت قال : أمرني رسول الله صلى الله عليه وسلم أن أتعلم له كتاب يهود قال إني والله ما آمن يهود على كتاب قال فما مر بي نصف شهر حتى تعلمته له قال فلما تعلمته كان إذا كتب إلى يهود كتبت إليهم وإذا كتبوا إليه قرأت له كتابهم قال أبو عيسى هذا حديث حسن صحيح
وقد روي من غير هذا الوجه عن زيد بن ثابت رواه الأعمش عن ثابت بن عبيد الأنصاري عن زيد بن ثابت قال أمرني رسول الله صلى الله عليه وسلم أن أتعلم السريانية قال الشيخ الألباني : حسن صحيح

Artinya: Zayd ibn Tsabit, ia berkata: Rasulullah SAW memerintahkan kepadaku untuk mempelajari bahasa Ibrani guna menterjemahkan surat orang-orang Yahudi. Zaid berkata dengan nada semangat:”Demi Allah, sesungguhnya akan kubuktikan kepada orang-orang Yahudi bahwa aku mampu menguasai bahasa mereka.” Zaid melanjutkan: “setengah bulan berikutnya aku mempelajarinya untuk Nabi SAW dengan tekun dan setelah aku menguasainya, maka aku menjadi juru tulis Nabi SAW apabila beliau berkirim surat kepada mereka, akulah yang menuliskannya; dan apabila beliau menerima surat dari mereka, akulah yang membacakan dan yang menerjemahkannya untuk Nabi SAW. Berkata Abu Isa Hadis ini hasan shahih.
Menurut riwayat lain, bahwa Zayd ibn Tsabit, ia berkata: Rasulullah SAW telah menyuruh aku belajar bahasa Suryani. Berkata Syekh al-Bani Hadis ini Hasan Shahih. (Abi Isa Muhammad ibn Isa ibn Saurat al-Tirmizy, tt: 67)

Dalam Hadis ini Nabi SAW menganjurkan Zaid ibn Tsabit untuk mempelajari bahasa Suryani. Muncul sebuah pertanyaan, kenapa Nabi SAW menganjurkan sahabat dan sekretaris beliau tersebut mempelajari bahasa Suryani? Dari sejarah peradaban dapat diketahui bahwa, banyak ilmu-ilmu yunani telah diterjemahkan ke dalam bahasa Suryani, misalnya filsafat, astronomi, matematika, kedokteran, dan lain-lain. Ini berarti bahwa, Nabi SAW menganjurkan umat Islam mempelajari filsafat, astronomi, matematika dan kedokteran yang terdapat dalam bahasa Suryani tersebut. (Abd. Mukti, 2008: 91)
Sehubungan dengan ini, Imam Syafi’i (150/767-205/820) mengatakan barangsiapa yang mempelajari matematika, maka pendapatnya akan kukuh (من تعلم الحساب جزل رايه). (Al-Mawardi, tt: 45-46). Oleh karena itu matematika sangat diperlukan dalam memahami ilmu faraidh. Imam Ghazali (w. 505/1111) mengatakan bahwa pengetahuan seseorang yang tidak pernah belajar logika -salah satu cabang filsafat- adalah tidak bisa diandalkan. (Nurchalis Madjid, 1985: 47)
Perintah (Khithab) Nabi kepada Zaid ibn Tsabit itu berlaku juga bagi semua umat Islam hingga akhir zaman. Banyak pakar Hadis yang telah memberikan penilaian atau kritik terhadap kualitas Hadis yang diriwayatkan al-Tirmizi ini. Salah seorang di antaranya adalah Syekh al-Bani. Menurutnya, kualitas Hadis ini adalah Hasan Sahih. Maka hadis ini dapat dijadikan dalil bahwa mempelajari ilmu-ilmu aqliyah dianjurkan dalam Islam. Konsekwensinya, pro dan kontra tentang pentingnya ilmu-ilmu aqliyah dalam Islam dapat dikurangi.
Ini menunjukkan bahwa, kurikulum pendidikan Islam juga menaruh perhatian pada pengajaran bahasa asing. Karena bahasa-bahasa itu merupakan alat komunikasi dengan dunia luar, sarana mempelajari kebudayaan, ilmu-ilmu pengetahuan, hikmah-hikmahnya yang bermanfaat dan juga merupakan faktor yang menolong kerjasama antar bangsa.
Oleh sebab itu, kaum muslimin dahulu tidak segan-segan mempelajari bahasa asing. Kebutuhan kepada bahasa semakin bertambah ketika dunia Islam semakin luas, dan banyak bangsa-bangsa yang mempunyai bahasa-bahasa, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan asli memasuki agama Islam yang bahasanya perlu diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Begitu juga kebutuhan terhadap bahasa asing ini bertambah besar ketika kehidupan di dunia Islam bertambah kompleks dan fungsi negara semakin banyak, keadaaan ekonomi, sosial dan kebudayaan bertambah baik. Sehingga kebutuhan menterjemahkan apa yang ditulis pada kebudayaan-kebudayaan lain termasuk ilmu pengetahuan, surat menyurat, dan falsafah yang berguna untuk memberi kemaslahatan kepada masyarakat Islam dan kebudayaan Islam. (Omar Muhammad al-Toumy al-Syaibani, 1979 :511)
Kisah Zaid bin Tsabit ini menunjukkan bahwa, di universitas Islam pertama yang didirikan oleh Nabi Muhammad SAW, hanya membutuhkan waktu 16 hari bagi Zaid untuk mampu menguasai bahasa Suryani dengan predikat cumlaud berbanding 16 tahun waktu yang dihabiskan oleh seorang pelajar masa sekarang dengan perhitungan mulai dari tingkat ibtidaiyah sampai selesai jenjang perguruan tinggi.
7. Teknik
عن انس مالك قال: أطلبوا العلم ولو بالصين فإن طلب العلم فريضة على كل مسلم
ِArtinya: Dari Anas ibn Malik berkata ia : Tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina sekalipun. Sesungguhnya menuntut ilmu itu diwajibkan atas tiap-tiap Muslim. (Abu Bakar Ahmad ibn al-Husayn Al-Bayhaqi, 1990:234-235)

Dalam catatan sejarah disebutkan bahwa, bangsa Cina telah mengembangkan teknik pembuatan kertas, pembuatan mesiu, pembuatan jam dan pembuatan kompas. Ini berarti bahwa, perintah Nabi SAW kepada umat Islam untuk belajar ke negeri Cina mencakup mempelajari semua pengetahuan Cina tersebut. Penggunaan kertas dalam kehidupan ilmiah dewasa ini tak bisa dihindari. Kertas diperlukan umat Islam untuk menulis al-Qur’an, kitab-kitab, Hadis, buku-buku agama, dan buku-buku ilmiah lainnya. Begitu juga mesiu diperlukan umat Islam untuk mempertahankan diri dari serangan musuh-musuh mereka. Sementara jam dapat membantu umat Islam mengetahui waktu shalat dan waktu berbuka puasa serta imsak. Di samping itu juga tidak kalah pentingnya kegunaan kompas yakni dapat membantu umat Islam dalam menentukan arah kiblat. Namun karena isnad Hadis Malik ibn Anas ini sangat lemah menurut para kritikus Hadis, maka Hadis Malik ibn Anas ini hanya bisa dijadikan pendorong (al-targhib) untuk mempelajari semua pengetahuan teknik tersebut. Analoginya, umat Islam dewasa ini pun harus mengadopsi ilmu pengetahuan dan teknoloogi (IPTEK) sebagaimana dikenal di Barat.
Dalam Sejarah Pendidikan Islam diketahui bahwa umat Islam pernah membenci ilmu pengetahuan umum sejak abad pertengahan (1250-1800) karena alasan politik semata-mata dan bukan alasan syar’i. Ada dua penyebab utama, yaitu: Pertama, untuk memelihara kemurnian akidah umat Islam. Karena ilmu-ilmu tersebut pernah dicurigai dan karenanya menjadi pemicu terjadinya antagonisme antar golongan keagamaan dalam bidang agama dan politik, dan Kedua, terjadinya kolonialisme Barat ke dunia Islam. Maka untuk membangkikan perlawanan rakyat terhadap kaum kolonial para ulama mengeluarkan fatwa yang mengharamkan ilmu-ilmu pengetahuan umum yang di bawa kaum kolonial ke seluruh dunia Islam yang mereka jajah.
8. Astronomi
Rasulullah SAW bersabda:
حدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَإِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ بْنِ أَبَانَ كُلُّهُمْ عَنْ حُسَيْنٍ قَالَ أَبُو بَكْرٍ حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ عَلِيٍّ الْجُعْفِيُّ عَنْ مُجَمَّعِ بْنِ يَحْيَى عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ صَلَّيْنَا الْمَغْرِبَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قُلْنَا لَوْ جَلَسْنَا حَتَّى نُصَلِّيَ مَعَهُ الْعِشَاءَ قَالَ فَجَلَسْنَا فَخَرَجَ عَلَيْنَا فَقَالَ مَا زِلْتُمْ هَاهُنَا قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّيْنَا مَعَكَ الْمَغْرِبَ ثُمَّ قُلْنَا نَجْلِسُ حَتَّى نُصَلِّيَ مَعَكَ الْعِشَاءَ قَالَ أَحْسَنْتُمْ أَوْ أَصَبْتُمْ قَالَ فَرَفَعَ رَأْسَهُ إِلَى السَّمَاءِ وَكَانَ كَثِيرًا مِمَّا يَرْفَعُ رَأْسَهُ إِلَى السَّمَاءِ فَقَالَ النُّجُومُ أَمَنَةٌ لِلسَّمَاءِ فَإِذَا ذَهَبَتْ النُّجُومُ أَتَى السَّمَاءَ مَا تُوعَدُ وَأَنَا أَمَنَةٌ لِأَصْحَابِي فَإِذَا ذَهَبْتُ أَتَى أَصْحَابِي مَا يُوعَدُونَ وَأَصْحَابِي أَمَنَةٌ لِأُمَّتِي فَإِذَا ذَهَبَ أَصْحَابِي أَتَى أُمَّتِي مَا يُوعَدُونَ

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Sahihnya bab Fadhail al-Shababah dengan memenuhi kelima syarat Hadis sahih, Hadis ini tergolong Hadis shahih marfu’. Ditinjau dari sisi sanad yang berjumlah sembilan orang, maka Hadis di atas dapat dikategorikan Hadis masyhur, dan tergolong maqbul, karena sanadnya bersambung, diriwayatkan oleh periwayat yang adil lagi dabith, terhindar dari kejanggalan (syuzuz), dan tidak ada illat yang mencacatkannya. (Nawir Yuslem, 2003:354-362)
Dengan kualitas yang demikian maka hadis ini dapat dijadikan hujjah. Redaksi hadis yang diriwayatkan Muslim diriwayatkan juga oleh Al-Minawi dalam kitabnya Faidh Al-Qdir dan juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya.
Kajian menarik dari bintang adalah urgensi beredarnya bintang dengan fungsinya sebagai kompas oleh lembaga pendidikan kelautan, pengusaha travel, transportasi dan perjalanan udara pada khususnya. Allah SWT menjelaskan dengan sumpahnya, terutama karena jarak antara bintang-bintang mencapai jarak yang tidak dapat digambarkan oleh khayalan. Seperti kita menemukan bintang terdekat yang terdapat dalam galaksi kita adalah matahari yang berjarak beberapa tahun cahaya dari bumi dimana kecepatan cahaya sama dengan 300.000 km per detik. (Kamil Abd al-Shamad Muhammad, 2007: 47)
9. Geologi.
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ وَقُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ وَعَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ قَالُوا حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ وَهُوَ ابْنُ جَعْفَرٍ عَنْ الْعَلَاءِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ عَبَّاسِ بْنِ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِيِّ عَنْ سَعِيدِ بْنِ زَيْدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ نُفَيْلٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ اقْتَطَعَ شِبْرًا مِنْ الْأَرْضِ ظُلْمًا طَوَّقَهُ اللَّهُ إِيَّاهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ سَبْعِ أَرَضِينَ
Artinya: Kami mendapat hadis dari Abu al-Yama, kami mendapathadis dari Syu’aib dari zuhri berkata: Saya mendapat hadis dari Thalhah bin Abdulah, bahwasanya Abdurrahman bin Amr bin Sahl menceritakan kepadanya bahwa Said bin Zaid r.a pernah berkata: Saya mendengar Rasululah SAW bersabda: barang siapa yang zalim menyerobot sedikit saja tanah (milik orang lain) maka sesungguhnya ia akan dikalungkan dengan tujuh lapis bumi

Hadis ini diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari kitab Bada’u khalq, begitu pula dalam Shahih Muslim dalam Kitab al-Musaqah Hadis tersebut secara umum melarang segala bentuk kezaliman dan khususnya pada penyerobotan tanah orang lain tanpa mekanisme yang benar. Sebagai penjelasan Al-Qur’an pada Surat Ibrahim /14 : 42 – 47.
Selain itu Hadis tersebut mengisyaratkan adanya tujuh lapis bumi. Untuk memahami signifikasi isyarat kosmologis ini, tentang tujuh lapis bumi tersebut dapat dijelaskan melalui bukti ilmiah kajian fisika tentang struktur bumi bagian dalam yaitu: Centosphere (inti bumi), lapisan luar inti bumi, lapisan terbawah pita bumi, lapisan tengah pita bumi, lapisan teratas pita bumi, lapisan bawah kerak bumi. Dalam Al-Qur’an ditegaskan bahwa Allah SWT telah menciptakan tujuh lapis bumi sebagaimana dalam QS. al-Mulk /67 : 3-4, kemudian oleh Allah jadikan gunung-gunung di atur sebagai penyanggah kekuatan letak bumi QS. an-Naazi’at/79: 32 serta an-Naba /78: 7.
10. Botani
حدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ عَنْ عَمْرِو بْنِ حُرَيْثٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ زَيْدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْكَمْأَةُ مِنْ الْمَنِّ وَمَاؤُهَا شِفَاءٌ لِلْعَيْنِ
Artinya: Kami mendapatkan hadis dari Abu Nu’aim kami mendapatkan hadis dari Sufyan dari ‘Abdil Malik dari ‘Amru ibn Huraitsin dari Sa’id bin Zaid r.a berkata. Bersabda Rasulullah SAW: Cendawan itu sejenis manna dan airnya dapat mengobati mata.(Muhammad bin Ismail Abu Abdillah al-Bukhari, bab Tafsir al-Qur’an, No. 4118)

Diantara maksud Hadis ini adalah, cendawan itu termasuk anugerah Allah SWT yang airnya dapat mengobati sakit mata. Cendawan dalam bahasa Arab disebut kam’ah yaitu benjolan jamur akar yang tumbuh di bawah tanah melalui simbiosis dengan akar tumbuhan tertentu. Cendawan tumbuh di bawah tanah sampai kedalaman 30 cm dan berkelompok, berbentuk bulat berangkai, lunak dan warnanya berangsur-angsur dari putih, abu-abu, coklat dan hitam, aromanya bau. Cendawan ini tumbuh pada komposisi antara pasir dalam, kerikil, dangkal dan batu.
11. Zoologi

حدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ عَمْرِو بْنِ يَحْيَى الْمَازِنِيِّ عَنْ أَبِيهِ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ فِيمَا دُونَ خَمْسِ ذَوْدٍ صَدَقَةٌ مِنْ الْإِبِلِ وَلَيْسَ فِيمَا دُونَ خَمْسِ أَوَاقٍ صَدَقَةٌ وَلَيْسَ فِيمَا دُونَ خَمْسَةِ أَوْسُقٍ صَدَقَةٌ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ قَالَ حَدَّثَنِي يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ قَالَ أَخْبَرَنِي عَمْرٌو سَمِعَ أَبَاهُ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِهَذَا

Hadis ini memang tidak membicarakan tentang unta, namun lebih dekat dengan pembahasan sedekah. Tetapi untuk menemukan pembicaraan unta melalui hadis dengan menggunakan pendekatan maudhu’i berdasarkan kata unta itu sendiri, maka hadis ini mewakili ilmu-ilmu kealaman, dimana pada diri unta menjadi misteri dengan kemampuannya dapat bertahan hidup tanpa air. Misteri ini terjawab oleh para ilmuwan Barat dengan penelitiannya bahwa lemak yang terdapat pada punuk unta dapat memproduksi air. Mengenai unta ini Allah SWT berfirman dalam QS. al-Ghaasyiyah /88 :17.
12. Fisika

حَدَّثَنَا مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ قَالَ حَدَّثَنَا هِشَامٌ قَالَ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ عَنْ أَنَسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَخْرُجُ مِنْ النَّارِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَفِي قَلْبِهِ وَزْنُ شَعِيرَةٍ مِنْ خَيْرٍ وَيَخْرُجُ مِنْ النَّارِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَفِي قَلْبِهِ وَزْنُ بُرَّةٍ مِنْ خَيْرٍ وَيَخْرُجُ مِنْ النَّارِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَفِي قَلْبِهِ وَزْنُ ذَرَّةٍ مِنْ خَيْرٍ قَالَ أَبُو عَبْد اللَّهِ قَالَ أَبَانُ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ حَدَّثَنَا أَنَسٌ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ إِيمَانٍ مَكَانَ مِنْ خَيْرٍ

Sebagaimana ilmu-ilmu kealaman lainnya, para ilmuwan menemukan atom ini pada abad ke-20 dengan temuan bahwa atom terdiri dari dari zat radium dan uranium serta lainnya yang terdiri dari ion-ion positif maupun negatif yang biasa disebut alpha dan gamma. Menurut Shalahuddin, sebagaimana dikutip Muhammad Kamil Abd al-shamad bahwa pada bulan januari 1929 dua ilmuwan Hahon dan Westersman di Berlin, mampu membelah atom uranium menjadi dua bagian lagi yang lebih kecil dari keduanya. (Muhammad Kamil Abd al-Shamad, 2007: 370)
D. Penutup
Kurikulum biasa diungkapkan dengan manhaj al-dirasah, yang berarti jalan yang terang yang dilalui oleh manusia pada berbagai bidang kehidupan. Sedangkan kurikulum pendidikan (manhaj al-dirasah) dalam kamus tarbiyah adalah seperangkat perencanaan dan media yang dijadikan oleh lembaga pendidikan dalam mewujudkan tujuan-tujuan pendidikan. Namun, hasil penelusuran penulis dalam kitab hadis, tidak ada ditemukan kata khusus seperti manhaj al-dirasah sebagai kata yang menunjukkan kurikulum, karenanya penulis mencoba memahami kurikulum berdasarkan matan Hadis yang bermuatan konsep kurikulum yang diajarkan rasul untuk dipelajari.
Hadis menyebutkan bahwa, kurikulum bersifat integral dan komprehensif serta menjadikan al-Qur’an dan Hadis sebagai sumber utama dalam penyusunannya. Perlu dicatat, bahwa dalam Islam tidak ada perbedaan (dichotomy) antara ilmu-ilmu agama (al-’ulum al-naqliyyat; religious sciences) dan ilmu-ilmu umum (al-’ulum al-naqliyyat; secular sciences). Ilmu-ilmu umum sangat diperlukan karena dapat membantu dalam memahami ajaran-ajaran Islam, karenanya Rasul pun menganjurkan umat Islam untuk mempelajarinya bahkan bahasa musuh sekalipun perlu dipelajari.
Untuk mengatasi keterbelakangan umat, maka umat Islam harus mengambil alih ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) sebagaimana dikenal di Barat pada saat ini. Hal ini sesuai dengan anjuran Hadis Nabi SAW, para sahabat dan ulama-ulama Sunni terdahulu sebagaimana telah dijelaskan di muka. Salah satu caranya ialah dengan memasukkan pengetahuan dan teknologi (IPTEK) dari Barat ke dalam kurikulum pendidikan Islam mulai dari tingkat terendah hingga perguruaan tinggi. Adapun daftar mata pelajaran yang penulis dapatkan berdasarkan Hadis Rasul terlampir. Wallau a’lam bi al-sawab.

DAFTAR BACAAN

Abd. Mukti, Pembaharuan Lembaga Pendidikan di Mesir studi Tentang Sekolah-Sekolah Modern Muhammad ‘Ali Pasya, Bandung: Cita Pustaka Media Perintis, 2008

……., Artikel Pentingnya Pendekatan Sejarah Peradaban dalam Memahami Hadis,

Abdul Mujib, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana, 2006

Abi Isa Muhammad ibn Isa ibn Saurat al-Tirmizy, al-Jami’ al-Shahih Sunan Tirmidzi, juz. 5, Beirut: Daar Ihya al-Turas al-’Arabiy, tt

Afzalurrahman, Qur’anic Science, terj. Taufik Rahman. Bandung: Mizan Pustaka, 2007

Ahmad ibn Hanbal Abu Abdullah al-Syiyabaani, Musnad Imam Ahmad ibn Hanbal, juz. 1, al-Qaahirah: Mu’assasah Qurthubah, tt, 266

Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, Bandung : Remaja Rosdakarya, 2007

Hasan Langgulung, Manusia dan Pendidikan Suatu Analisa Psikologi Pendidikan, Jakarta : Pustaka al-Husna, 1986

Jamaal ‘Abdur Rahman, Athfaalul Muslimin, Kaifa Rabbaahum Nabiyyul Amiin, (terj) Bahrun Abu Bakar Ihsan Zubaidi, Bandung: Irsyad Baitus Salam, 2005

Kamil Abd al-Shamad Muhammad, Mukjizat Ilmiah dalam Al-Qur’an, Jakarta: Al-Bar, 2007

Al-Mawardi, Adab al-Dunya wa al-Din, Cetakan III, Surabaya: Syirkah Bongkol Indah, tt

M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta : Bumi Aksara, 1991

Malik ibn Anas Abu Abdillah, al-Muwattha’ Imam Malik, Juz 2 Mesir: Dar Ihya al-Turas al-Arabi, tt

Muhammad bin Ismail Abu Abdillah al-Bukhari, al-Jami’ as-Shahih al-Mukhtashar, juz. 4 Beirut: Dar Ibn Katsir, 1987

Muslim ibn al-Hajaj Abu Husayn al-Qusyairi an-Nisyaburi, Shahih Muslim, juz. 4, Beirut: Daar Ihya al-Turaas al-’Arabiy, tt

Nurcholish Madjid, (ed), Khazanah Intelektual Islam, Cet. II, Jakarta: Bulan Bintang, 1985

Omar Muhammad al-Toumy al-Syaibani, Falsafah Pendidikan Islam, terj. Hasan Langgulung, Jakarta: Bulan Bintang, 1979

S. Nasution, Asas-asas Kurikulum, Jakarta: Bumi Aksara, 1994

S.S. Husein dan S.A. Ashraf, Crisis in Muslim Education, Jeddah: King Abdul azis University, 1979

Sulaiman ibn al-Asy’as Abu Daud al-sajastani al-ajdi, Sunan Abi Daud, juz. 1, Beirut: Dar al-Fikr,

Tim Redaksi, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Cetakan ketiga, Jakarta: Balai Pustaka, 2005

Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta : Bumi Aksara, 1992

About these ads

Filed under: google124590ab

3 Responses

  1. okah mengatakan:

    Assalamu’alaikum,
    artikel yang sangat bermanfaat. Izin untuk ngopi ke http://www.pendidikmuslim.co.nr sekaligus revisi singkatan shallallohu’alaihi wasallam dan subhanahu wata’ala.

    Jazakumullohu khoiro
    salam kenal dari Jogja

  2. Giyanto mengatakan:

    Akh, afwan… apa tidk salah Rasulullah memerintahkan belajar ilmu filsafat??

    Kebanyakan orang sesat karena filsafat, dan tidak mau mengambil nash sahih karena bertentangan dengan akal mereka…
    Kita berlindung kepada Allah dari penyesatan ilmu filsafat…

  3. muhammad yusran mengatakan:

    MOHON IJIN COPY, BUAT TAMBAHAN BAHAN MAKALAH. SAYA KULIAH DI IAIN ANTASARI BJM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 43 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: