Wudhu’ merupakan salah satu syarat sah sholat, tanpa wudhu’ maka sholat seseorang tidak akan diterima oleh Allah Ta’ala. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فاغْسِلُواْ وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُواْ بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَينِ
“wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian hendak mendirikan sholat, hendaklah kalian basuh wajah kalian, kemudian tangan hingga siku, lalu sapulah kepala kalian, dan basuhlah kaki kalian hingga mata kaki.” [1]
Juga sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
عن همام بن منبه أنه سمع أبا هريرة يقول قال رسول الله صلى الله عليه و سلم لا تقبل صلاة من أحدث حتى يتوضأ
“Dari Hamam bin Munabih, ia mendengar Abu Hurairah berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak diterima shalat seseorang yang berhadas kecuali ia bersuci (terlebih dahulu). [HR. Bukhari no. hadits 135 dan Muslim no. hadits 225]
Adapun hal-hal yang harus diketahui oleh seorang muslim dalam berwudhu’ adalah:
- Sebelum berwudhu’ hendaklah berniat, dan tanpa melafadzkannya. Sebagaimana penjelasannya terdahulu.
- Membaca basmallah. Hal ini merupakan kesempurnaan wudhu’. Bahkan sebahagian ulama menganggap membaca basmallah ketika hendak wudhu’ adalah sebuah kewajiban. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
لا صلاة لمن لا وضوء له، ولا وضوء لمن لم يذكر اسم الله عليه
“Tidak sah shalat seseorang yang tidak berwudhu, dan tidak pula sah wudhunya tanpa membaca nama Allah.”[2]
- Hendaklah seseorang bersiwak/menggosok gigi setiap kali berwudhu’. Hal ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:
لولا أن أشق على أمتي لأمرتهم بالسواك عند كل وضوء
“Kalaulah tidak menyusahkan ummatku, niscaya aku perintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali berwudhu.”[3]
- Membasuh seluruh anggota wudhu’ hendaknya diusahakan/dipastikan seluruh bagian terkena air, jika tidak maka wudhu’ tersebut tidak sempurna. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,
وَعَنْ أَنَسٍ – رضي الله عنه – قَالَ: – رَأَى اَلنَّبِيُّ – صلى الله عليه وسلم – رَجُلًا, وَفِي قَدَمِهِ مِثْلُ اَلظُّفْرِ لَمْ يُصِبْهُ اَلْمَاءُ. فَقَالَ: “اِرْجِعْ فَأَحْسِنْ وُضُوءَكَ
Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melihat seseorang yang pada kakinya ada bagian sebesar kuku yang tidak terkena air, kemudian beliau bersabda, “kembalilah dan sempurnakan wudhu’mu lagi”.[4]
- Hendaklah berwudhu’ dengan tetap menghemat air, sebagaimana yang ditunjukkan dari hadits berikut:
كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَتَوَضَّأُ بِالْمُدِّ, وَيَغْتَسِلُ بِالصَّاعِ إِلَى خَمْسَةِ أَمْدَادٍ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berwudhu’ dengan 1 (satu) mud air, dan mandi dengan 1 (satu) sha’ air hingga 5 (lima) mud.”[5]
Ukuran 1 (satu) mud = 750 ml; dan 1 mud = ¼ sha’;
1 (satu) sha’ = 3 liter.
Mengenai tata cara berwudhu’, mari kita perhatikan hadits-hadits berikut:
وَعَنْ حُمْرَانَ; – أَنَّ عُثْمَانَ – رضي الله عنه – دَعَا بِوَضُوءٍ, فَغَسَلَ كَفَّيْهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ, ثُمَّ مَضْمَضَ, وَاسْتَنْشَقَ, وَاسْتَنْثَرَ, ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ, ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ اَلْيُمْنَى إِلَى اَلْمِرْفَقِِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ, ثُمَّ اَلْيُسْرَى مِثْلَ ذَلِكَ, ثُمَّ مَسَحَ بِرَأْسِهِ, ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَهُ اَلْيُمْنَى إِلَى اَلْكَعْبَيْنِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ, ثُمَّ اَلْيُسْرَى مِثْلَ ذَلِكَ, ثُمَّ قَالَ: رَأَيْتُ رَسُولَ اَللَّهِ صَلَّى عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا. – مُتَّفَقٌ عَلَيْه
“Dari Humran, sesungguhnya Utsman radliyallohu ‘anhu ketika berwudhu’, beliau membasuh pergelangan tangannya tiga kali, kemudian berkumur-kumur, menghirup air ke hidung dan mengeluarkannya, kemudian membasuh wajahnya tiga kali, kemudian membasuh tangannya yang kanan hingga sikut sebanyak tiga kali, lalu tangannya yang kiri seperti itu juga, lalu menyapu kepala, kemudian membasuh kakinya yang kanan hingga mata kaki sebanyak tiga kali, lalu membasuh kakinya yang kiri seperti itu juga. Kemudian beliau (Utsman radliyallahu ‘anhu) berkata, “Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berwudhu seperti wudhu’ ku ini.”[6]
Dari hadits ini dapat kita ambil beberapa pelajaran, diantaranya:
- Inilah sifat wudhu’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan sebagai seorang muslim, selayaknya kita berwudhu’ dengan cara-cara berwudhu’ yang diajarkan oleh Rasulullah.
- Sangat disukai bagi orang yang berwudhu’ untuk pertama kali membasuh kedua pergelangan tangan. Dan ini sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam:
إِذَا اِسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ نَوْمِهِ فَلَا يَغْمِسُ يَدَهُ فِي اَلْإِنَاءِ حَتَّى يَغْسِلَهَا ثَلَاثًا فَإِنَّهُ لَا يَدْرِي أَيْنَ بَاتَتْ يَدَهُ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. وَهَذَا لَفْظُ مُسْلِم
“Apabila seseorang bangun dari tidur, maka janganlah ia memasukkan tangannya kedalam bejana (tempat air) kecuali ia membasuhnya terlebih dahulu sebanyak tiga kali, karena ia tidak tahu kemana tangannya berada saat tidur.”[7]
- Setelah membasuh kedua pergelangan tangan, hendaknya orang yang berwudhu’ berkumur-kumur, menghirup air ke hidung dan membuangnya kembali sebanyak tiga kali. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,
إِذَا اِسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ مَنَامِهِ فَلْيَسْتَنْثِرْ ثَلَاثًا, فَإِنَّ اَلشَّيْطَانَ يَبِيتُ عَلَى خَيْشُومِهِ
“Apabila seseorang bangun dari tidur, hendaklah ia menghirup air dari hidung dan mengeluarkannya (membersihkan hidung) sebanyak tiga kali, karena sesungguhnya Syaithan berada pada khaisyumnya (dalam hidung).”[8]
Dan hendaknya berkumur-kumur dan menghirup air ke hidung dilakukan dengan bersamaan dengan 1 cakupan air di tangan. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam;
وَعَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ زَيْدٍ – رضي الله عنه – ثُمَّ أَدْخَلَ – صلى الله عليه وسلم – يَدَهُ, فَمَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ مِنْ كَفٍّ وَاحِدَةٍ, يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلَاثًا
Dari Abdullah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu berkata, “Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wasallam memasukkan tangannya (ke dalam bejana), lalu berkumur dan menghirup air ke hidungnya bersamaan dari cakupan air di tangannya, dan melakukannya sebanyak tiga kali.”[9]
- Hendaknya dalam membasuh semua anggota wudhu’ dimulai dengan bagian kanan. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا تَوَضَّأْتُمْ فابدأوا بِمَيَامِنِكُمْ
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila kalian berwudhu’ maka mulailah dengan bagian kanan.”[10]
- Meniga-tiga kali setiap kali membasuh anggota wudhu’ kecuali ketika menyapu kepala.
Sebagaiman hadits diatas dan hadits berikut:
وَعَنْ عَلِيٍّ – رضي الله عنه – -فِي صِفَةِ وُضُوءِ اَلنَّبِيِّ صَلَّى اَللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- قَالَ: – وَمَسَحَ بِرَأْسِهِ وَاحِدَةً. – أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُد َ
Dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu dalam sifat wudhu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “dan beliau shallallhu ‘alaihi wasallam menyapu kepalanya sekali”.[11]
ثم مسح رأسه بيديه، فأقبل بهما وأدبر، بدأ بمقدم رأسه حتى ذهب بهما إلى قفاه، ثم ردهما إلى المكان الذي بدأ منه
“Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menyapu kepalanya dengan kedua tangannya, dari depan hingga ke belakang, beliau mulai nyapu dari arah depan hingga ketengkuknya kemudian kembali ke tempat semula.”[12]
Hadits ini juga menjadi dasar yang kuat bahwa menyapu kepala itu tidak cukup hanya dengan beberapa helai rambut saja, atau sebahagiannya saja, akan tetapi harus menyapu seluruh kepala dengan kaifiyat/cara sebagaimana disebutkan dalam hadits ini.
- Setelah menyelesaikan membasuh seluruh anggota wudhu’ yang diakhiri dengan membasuh kaki hingga mata kaki, maka yang harus dilakukan adalah membaca do’a sebagaimana hadits berikut:
وَعَنْ عُمَرَ – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – - مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ يَتَوَضَّأُ, فَيُسْبِغُ اَلْوُضُوءَ, ثُمَّ يَقُولُ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اَللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ, إِلَّا فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ اَلْجَنَّةِ
Dari ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidaklah seseorang diantara kalian berwudhu’ dan menyempurnakan wudhu’ kemudian ia membaca;
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اَللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
Melainkan Allah akan membukakan baginya pintu-pintu syurga.[13]
[1] QS. Al-Maidah : 6
[2] HR. Abu Daud, Ibn Majah, dan Ahmad. Hadits ini dihasankan oleh Syeikh Nasiruddin Al-Albani rahimahullahu ta’ala sebagaimana diterangkan dalam Irwa’ al-Ghalil no. 81
[3] HR. An-Nasai, Sunan An-Nasai Hasyiah As-Sindi, Darul Ma’rifah, Beirut, Juz. I hal. 18
[4] HR. Abu Daud no. hadits 173; dalam Bulughul Maram, al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani menyangka bahwa hadits ini juga dikeluarkan oleh an-Nasai, ini adalah sebuah kekeliruan sebagaimana disebutkan dalam Taudhihul Ahkam, Abdurrahman bin Abdullah al-Bassam.
[5] HR. Bukhari no. hadits 201; dan Muslim no. hadits 325. Hadits ini diriwayatkan oleh Anas radhiyallahu ‘anhu.
[6] HR. Bukhari no. hadits 159 dan Muslim no. 226 dari jalur ‘Atha bin Yazid al-Laitsi dari Humran
[7] HR. Bukhari no. hadits 162 dan Muslim no. hadits 278
[8] HR. Bukhari no. hadits 3295 dan Muslim no. hadits 238
[9] HR. Bukhari no. hadits 185 dan Muslim no. hadits 235
[10] HR. Abu Daud no. hadits 4141, At-Tirmidzi (1766), An-Nasai dalam Sunan Al-Kubro (5/482), Ibnu Majah (402), Ibnu Khuzaimah (178). Hadits ini dinilai shohih oleh Ibnu Khuzaimah.
[11] HR. Abu Daud (1/111) Hadits ini Shohih, Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata, Sanadnya Sholih (baik). [Taudhihul Ahkam 1/205, Maktabah Al-Asadi, Mekkah]
[12] HR. Bukhari (1/184)
[13] HR. Muslim no. hadits 234
Filed under: fiqh


Komentar