Abu Aqil di Langsa

Icon

Meniti Jejak Ahlussunnah wal Jama'ah

Hukum Shalat dengan Memakai Celana

حكم الصلاة بـ البنطلون

السائل (ع.ع) الرياض يقول: ما حكم لباس سروال “البنطلون”؟ خاصة أن بعض من يلبسه ينكشف جزء من عورته، وذلك وقت ركوعه وسجوده في الصلاة.

إذا كان البنطلون – وهو السراويل – ساتراً ما بين السرة والركبة للرجل، واسعاً غير ضيق صحت فيه الصلاة، والأفضل أن يكون فوقه قميص يستر ما بين السرة والركبة، وينزل عن ذلك إلى نصف الساق أو إلى الكعب؛ لأن ذلك أكمل في الستر.

والصلاة في الإزار الساتر أفضل من الصلاة في السراويل إذا لم يكن فوقها قميص ساتر؛ لأن الإزار أكمل في الستر من السراويل.

نشرت في مجلة الدعوة في العدد (1333) بتاريخ 8/9/1412هـ. وفي كتاب الدعوة (الفتاوى) لسماحته، الجزء الأول ص (68 – 69) – مجموع فتاوى ومقالات متنوعة المجلد العاشر.

http://www.ibnbaz.org.sa/mat/2480

Terjemah

Penanya berasal dari Riyadh berkata: “Apa hukum memakai celana? Khususnya yang dikenakan  akan tampak bagian dari auratnya saat membungkuk dan bersujud dalam shalat?”.

Jawab :
Jika celana – celana panjang – seperti meliputi/menutupi daerah antara pusar dan lutut laki-laki,lebar dan tidak sempit/ketat maka shalatnya sah, namun terlebih baik untuk memakai diatasnya gamis yang menutupi antara pusar dan lutut, dan bagian bawah hingga ke pertengahan betis atau mata kaki; karena hal tersebut lebih mendekati kepada sempurnanya menutup aurat.

Dan shalat dengan memakai sarung/kain yang menutupi (semua aurat) lebih baik daripada shalat dengan celana jika tanpa memakai gamis/kemeja diatasnya; karena sarung/kain lebih sempurna menutupi ketimbang celana.

- Diterbitkan dalam Majalah Dakwah nomor (1333) tanggal 8/9/1412 AH. Bagian I, hal (68-69)

Filed under: Fatwa, fiqh

One Response

Leave a Reply