Abu Aqil di Langsa

Icon

Blog Pribadi

Ketika Allah Menyeru Kita [Tafsir Taisir]

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.” (QS. Al-Anfal: 24)

Ayat ini memberikan keterangan kepada kita bahwa Allah Ta’ala memanggil kaum mukminin dengan panggilan kemuliaan untuk segera memenuhi panggilan-Nya dan panggilan Rasul-Nya.

Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsirnya menukilkan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari;

عن أبي سعيد بن المعلى قال: كنت أصلي، فمر بي رسول الله صلى الله عليه وسلم، فدعاني فلم آته حتى صليت، ثم أتيته فقال: “ما منعك أن تأتيني؟” ألم يقل الله: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ1

Dari Abu Sa’id bin Ma’ally, ia berkata: “Pernah ketika aku sedang shalat di Masjid, lantas Rasulullah memanggilku namun aku tidak memenuhi panggilan itu hingga aku menyelesaikan shalatku. Kemudian Rasulullah bersabda, “Apa yang menghalangi kamu untuk memenuhi panggilanku? Tidak kamu mendengar Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan/kebaikan kepada kamu” (HR. Bukhari)

Dengan hadits ini dan ayat di atas, para ulama bersepakat bahwa memenuhi seruan Rasulullah adalah wajib hukumnya. Sehingga hal ini menjadi pembatal aqidah kaum Ingkar Sunnah yang menolak hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dan firman Allah, “sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya” adalah peringatan penting kepada kaum Mukminin bahwa jika Allah memberikan kesempatan untuk berbuat baik maka hendaknya kita menggunakan kesempatan tersebut sebelum kesempatan itu luput dari kita. Karena dengan perintah Allah dan Rasul-Nya itu, Allah hendak membatasi antara manusia dan hatinya; yakni keinginannya, nafsunya yang cenderung kepada maksiat kepada Allah Ta’ala.

إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ

“Karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan.” (QS. Yusuf: 53)

 


 

[1] Muhammad bin Ismail al-Bukhari, al-Jamius Shahih, Tahqiq: Musthafa Dhibul Bigha, Dar Ibn Katsir: Beirut, Cet  III, 1407H, Juz IV, h. 1704

Filed under: Tafsir

Leave a Reply