Abu Aqil di Langsa

Icon

Meniti Jejak Ahlussunnah wal Jama'ah

Pasrah Saja, Tak Cukup

Namun di sisi lain, sebagian orang salah dalam memahami ayat-ayat rejeki ini, lantas mereka hanya berpasrah diri, berpangku tangan dan bermalas-malasan dengan anggapan bahwa rejeki telah diatur dan Allah akan memberikan makan kepada mereka.

Mereka merasa cukup dengan mondar-mandir dari satu masjid ke masjid yang lain, tidur-tiduran dan meninggalkan pekerjaan mereka. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bekerja, berdagang dan aktivitas lainnya. Seandainya pemahaman Rasulullah seperti yang mereka pahami, tentu kita tidak akan menjumpai sebuah haditspun tentang praktik jual-beli, bercocok tanam dll.

Allah Ta’ala berfirman:

وَكَأَيِّنْ مِنْ دَابَّةٍ لا تَحْمِلُ رِزْقَهَا اللَّهُ يَرْزُقُهَا وَإِيَّاكُمْ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezkinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Ankabut: 60)

Allah Ta’ala adalah Dzat yang menciptakan seluruh makhluq di bumi dan di langit. Allah pulalah yang menjamin rejeki seluruh makhluq-Nya tak terkecuali manusia. Dan Allah tidak menghendaki balasan sedikitpun dari makhluq-Nya melainkan agar mereka khususnya Jin dan Manusia semata-mata mengabdi kepada-Nya.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ * مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rejeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan.” (QS. Adz-Dzariat: 56-57)

Dalam QS. Al-Ankabut : 60 tersebut Allah memberikan pelajaran yang sangat agung kepada manusia bahwa ada makhluq lain yang dengan keterbatasannya baik fisik maupun akal, toh mereka tetap bisa hidup. Karena Allah adalah pencipta seluruh makhluq dan Dia-lah yang menanggung rejeki mereka seluruhnya.

نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى

“Kami tidak meminta rejeki kepadamu, Kami-lah yang memberi rejeki kepadamu.” (QS. Thaha: 132)

Ketakutan akan kemiskinan dan kefakiran terkadang menutupi mata manusia untuk mencari rejeki yang halal sehingga kebanyakan dari mereka melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya. Bahkan juga tak jarang dari mereka yang memiliki kemampuan lebih, dalam hal jabatan dan kekuasaan kemudian merampas hak-hak orang lain. Mereka dirundung ketakutan kekurangan rejeki, padahal Allah telah menetapkan rejeki mereka semuanya.

أَوَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ

“Apakah mereka tidak mengetahui bahwa Allah melapangkan rejeki dan menyempitkannya bagi siapa yang dikehendaki-Nya?” (QS. Az-Zumar: 52)

Keyakinan bahwa Allah Ta’ala adalah pemberi rejeki dan Dia yang mengatur rejeki seluruh makhluq-Nya, Keyakinan seperti ini selayaknya tertanam kuat di dada kita sehingga dalam mencari rejeki kita tetap memperhatikan rambu-rambu yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأرْضِ إِلا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rejekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).” (QS. Hud: 6)

Namun di sisi lain, sebagian orang salah dalam memahami ayat-ayat diatas, lantas mereka hanya berpasrah diri, berpangku tangan dan bermalas-malasan dengan anggapan bahwa rejeki telah diatur dan Allah akan memberikan makan kepada mereka.

Mereka cukup dengan mondar-mandir dari satu masjid ke masjid yang lain, tidur-tiduran dan meninggalkan pekerjaan mereka. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bekerja, berdagang dan aktivitas lainnya. Seandainya pemahaman Rasulullah seperti yang mereka pahami, tentu kita tidak akan menjumpai sebuah haditspun tentang praktik jual-beli, bercocok tanam dll.

Bahkan suatu hari Rasulullah pernah membantah tiga orang yang sangat antusias dalam beribadah dengan melampaui batas-batas kewajaran, seperti shalat malam terus-menerus tanpa tidur, berpuasa setahun penuh, dan tidak akan menikah. [Shahih Bukhari, No. 4776, Dar Ibn Katsir: Beirut]

Penjaminan rejeki oleh Allah Ta’ala seharusnya menjadikan kita sabar dengan tetap berusaha dan mengembalikan semua urusan rejeki hanya kepada Dzat yang telah menciptakan kita. Semoga Allah memberikan hidayah dan memudahkan kita dalam mencari rejeki-Nya. Wallahul Musta’an.

Rujukan: Taisīrul Karīmir Rahmān fi Tafsīr Kalāmil Manān, Abdurrahman bin Nashir As-Sa’adi

Langsa, 8 Nopember 2009

Abu Aqil di Langsa

Filed under: Tafsir

Leave a Reply