Permasalahan shalat malam (tarawih; khusus di bulan Ramadhan-red) merupakan permasalahan yang luas, dan hal ini tidaklah terikat pada suatu bilangan tertentu. Maka barang siapa yang ingin melakukannya 11 rakaat lakukanlah, dan siapa yang ingin mengerjakannya lebih atau kurang dari itu maka lakukanlah.
Berkata Ibnu Taimiyah rahimahullaah dalam Majmu’ al-fatawa (23/113): “Dan sebagian kelompok mengatakan, telah disebutkan secara shahih dari ‘Aisyah radliyallaahu ‘anha bahwa “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam shalat di bulan Ramadhan dan bulan lain tidak pernah lebih dari 13 rakaat.” Banyak kaum menjadi terguncang dalam masalah ini karena keraguan mereka terhadap hadits-hadits shahih yang bertentangan baik yang berasal dari sunnah khulafa’ur rasyidin dan apa yang telah dilakukan kaum muslimin kala itu.”
Adapun yang benar adalah menggabungkan dalil-dalil itu sebagaimana yang dilakukan oleh Imam Ahmad radliyallahu ‘anhu bahwa tidak ada batasan dalam shalat qiyamu ramadhan (tarawih) karena Nabi tidak memberikan batasan bilangan rakaatnya.
Diterjemahkan secara bebas tanpa merubah makna Abu Aqil di LangsaDan Syeikh bin Baaz berkata dalam Majmu’ Fatawa (11/322), “Telah tsabit (tetap/jelas) dari Umar radliyallaahu ‘anhu bahwa beliau memerintahkan beberapa sahabat untuk shalat 11 rakaat dan telah tsabit juga bahwa mereka shalat dengan perintah Umar 23 rakaat, ini menunjukkan bahwa permasalahan ini luas, dan para sahabat memaknai permasalah ini secara luas pula sebagaimana ditunjukkan oleh sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, “shalat malam itu dua rakaat-dua rakaat.”
Sumber: http://www.islam-qa.com/ar/ref/82152
Teks Asli
صلاة الليل الباب فيها واسع ، وهي غير محصورة بعدد ، فمن شاء قامها بإحدى عشرة ركعة ، ومن شاء زاد أو نقص ، وكذلك صلاة التراويح في رمضان .
يقول ابن تيمية رحمه الله “مجموع الفتاوى” (23/113) :
” وقال طائفة : قد ثبت فى الصحيح عن عائشة ( أن النبى لم يكن يزيد فى رمضان ولا غيره على ثلاث عشرة ركعة ) واضطرب قوم فى هذا الأصل ؛ لما ظنوه من معارضة الحديث الصحيح لما ثبت من سنة الخلفاء الراشدين وعمل المسلمين .
والصواب أن ذلك جميعه حسن ، كما قد نص على ذلك الامام أحمد رضى الله عنه ، وأنه لا يتوقت فى قيام رمضان عدد ، فان النبى لم يوقت فيها عددا ” انتهى .
ويقول الشيخ ابن باز رحمه الله تعالى “مجموع الفتاوى” (11/322) :
” وثبت عن عمر رضي لله عنه أنه أمر من عين من الصحابة أن يصلي إحدى عشرة ، وثبت عنهم أنهم صلوا بأمره ثلاثا وعشرين ، وهذا يدل على التوسعة في ذلك ، وأن الأمر عند الصحابة واسع ، كما دل عليه قوله عليه الصلاة والسلام : ( صلاة الليل مثنى مثنى ) ” انتهى
Filed under: Fatwa, fiqh, fatwa, fiqh, qiyamurramadhan, ramadhan, shalat, tahajud, tarawih













Assalamu alaikum war., wab.
Saya tidak mempermasalahkan taraweh dengan 11 atau 13 rakaat, yang ingin saya tanyakan adalah taraweh yang dipimpin oleh imam ahli bid’ah.
Bagaimana hukumnya ?
Terima kasih
wassalam