Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai (tafarruq). Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara. Dan (ingatlah) kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung. Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat. (QS 3/Ali-Imraan:102-105)
Dulu Muhammadiyah gencar dengan gerakan pemberantasan TBC (Takhyul, Bid’ah, dan C[k]hurafat). Namun pembinaan Muhammadiyah atas dasar taqlid tentang hisab hakiki wujudul hilal telah melemahkan sikap kritis internalnya akan bid’ah yang paling nyata yang berdampak pada perbedaan penentuan waktu ibadah Ramadhan, baik mengawalinya maupun mengakhirinya. Bid’ah adalah praktek yang terkait dengan ibadah yang tidak ada dasar hukumnya. Banyak yang tidak sadar akan bid’ah wujudul hilal, karena warga Muhammadiyah terfokus pada dalil-dalil hisab (perhitungan) yang dulu selalu dipertentangkan dengan rukyat (pengamatan) hilal. Seolah-olah hisab hanya dengan kriteria wujudul hilal. Saat ini hisab sudah disetarakan dengan rukyat, sepanjang hisabnya memperhatikan kriteria rukyat.
Secara lebih rinci, di blog saya ini saya tuliskan kritik saya pada kriteria wujudul hilal (http://tdjamaluddin.wordpress.com/2011/08/27/muhammadiyah-terbelenggu-wujudul-hilal-metode-lama-yang-mematikan-tajdid-hisab/). Dengan kritik itu berbagai hujatan saya terima, termasuk gelar baru sebagai “provokator” karena menggunakan kata “usang” (obsolete) yang sebenarnya bahasa netral dalam sains. Semoga provokasi saya masih dalam kerangka amar ma’uf nahi munkar yang diperintahkah Allah dalam QS 3:104, seperti tertulis di atas. Secara ringkas, fokus kritik saya pada penentuan awal Ramadhan dan akhir Ramadhan yang terkait dengan pelaksanaan ibadah, mestinya kriteria yang digunakan juga harus atas dasar dalil-dalil syar’i. Namun, dalil syar’i yang diajukan untuk mendasari wujudul hilal hanyalah QS 36:40 dengan tafsir astronomis yang keliru dan mengabaikan sekian banyak dalil rukyat yang sebenarnya bisa menjadi dasar untuk mendukung kriteria hisab. Dalil rukyat ketika ditafsirkan secara teknis untuk diterapkan dalam hisab akan berwujud kriteria imkan rukyat hilal (kemungkinan rukyat hilal) yang dalam bahasa teknis astronomis disebut kriteria visibilitas hilal. Wujudul hilal mengabaikan rukyat, sehingga tidak punya pijakan dalil qath’i (tegas) yang mendukungnya. Dengan demikian wujudul hilal menjadi bid’ah yang nyata. Padahal hisab tidak harus wujudul hilal, bisa menggunakan kriteria imkan rukyat yang merupakan tafsir ilmi astronomis atas dalil-dalil rukyat.
Astronomi menawarkan sekian banyak alternatif kriteria imkan rukyat sebagai hasil kajian ilmiah berdasarkan data pengamatan yang terus berkembang. Namun jangan berharap astronom untuk membuat kesepakatan soal kriteria, karena produk sains bukan harus dipersatukan, masing-maisng peneliti berhak untuk menyajikan data dan analisisnya, kemudian menyimpulkan kriteria yang dianggapnya terbaik menggambarkan visibilitas hilal. Untuk aplikasi dalam pembuatan kalender dan penentuan waktu ibadah, kita lah yang harus memilih salah satu kriteria itu kemudian menyepakatinya untuk diimplementasikan. Pemilihan kriteria harus didasarkan pada kemudahan dalam aplikasinya bagi seluruh ahli hisab dan ahli rukyat. Bagi ahli hisab, kriteria itu sebagai penentu masuknya awal bulan. Bagi ahli rukyat, kriteria sebagai pemandu rukyat.
Mengapa harus ada kesepakatan? Ya, demi persatuan dalam sistem kalender dan penentuan awal bulan, harus ada kesepakatan kriteria. Kita belajar dari penerapan astronomi dalam penentuan jadwal shalat. Kriteria posisi matahari untuk jadwal shalat sebenarnya beragam, khususnya untuk Shubuh, Asar, dan Isya. Namun, kita sudah bisa memilih salah satunya dan menyepakatinya sehingga secara umum semua jadwal shalat yang diumumkan Kementerian Agama sama dengan jadwal yang dikeluarkan ormas-ormas Islam. Jadwal kumandang adzan di TV sama dengan jadwal di masjid. Demikianlah kalau kesepakatan kriteria sudah tercapai.
Beberapa kali kesepakatan antar-ormas Islam yang difasilitasi Kementerian Agama sudah tercapai. Kesepakatan pertama tahun 1998 dan yang terakhir 2011 (http://tdjamaluddin.wordpress.com/2011/09/26/lokakarya-kriteria-awal-bulan-perwakilan-ormas-islam-bersepakat/). Tetapi Muhammadiyah selalu memisahkan diri dari kesepakatan. Muhammadiyah memilih tafarruq, berpisah dari ummat dalam hal penentuan awal bulan. Mereka lebih membela bid’ah wujudul hilal daripada persatuan ummat. Mereka lebih menjunjung pasal 29 UUD RI “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu” daripada perintah Allah yang qath’i dalam Al-Quran Surat Ali-Imran (3): 103 “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai (tafarruq)”.
Muhammadiyah merasa dipojokkan oleh Pemerintah dan ormas-ormas Islam lainnya dalam sidang itsbat penentuan Idul Fitri 1432/2011 sehingga memilih tidak akan ikut lagi sidang itsbat berikutnya. Mari kita tengok sejarah. Ketika terjadi perbedaan Idul Fitri 1998 karena perbedaan masalah kriteria wujudul hilal vs imkan rukyat, Menteri Agamanya Dr. Tarmizi Taher dari Muhammadiyah (Ketua Korps Mubalig Muhammadiyah). Keputusan sidang itsbat menetapkan Idul Fitri jatuh pada 30 Januari 1998, berdasarkan masukan sebagian besar peserta sidang yang menghendaki kesepakatan kriteria imkan rukyat digunakan. Kesaksian di Cakung dan Bawean ditolak. Hisab wujudul hilal tidak ada yang mendukung selain Muhammadiyah, karena Persis sebagai pengamal hisab juga menggunakan imkan rukyat. Ya, tidak perlu memojokkan Muhammadiyah. Kalau inginnya berbeda dengan yang lain, pasti Muhammadiyah akan terpojok dengan sendirinya. Perdebatan hangat saat sidang itsbat adalah hal yang biasa, bukan hanya saat sidang itsbat penetapan Idul Fitri 1432/2011. Saat sidang itsbat penetapan idul fitri 1998, sidang itsbat juga diwarnai debat hangat gara-gara masalah perbedaan kriteria. Menteri asal Muhammadiyah pun harus mengalah, karena sebagian besar peserta sidang itsbat menghendaki kesepakatan kriteria imkan rukyat yang digunakan, baik dalam menilai hasil hisab maupun rukyat. Muhammadiyah terpojok, lebih tepatnya memojokkan diri, tafarruq dari persatuan ummat.
T. Djamaluddin Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN Anggota Badan Hisab Rukyat, Kementerian Agama RI Anggota Tim Tafsir Ilmi, Kementerian Agama RIFiled under: Bantahan













jelas banyak bantahan atau hujatan la wong isi kandungannya seperti itu!masing masing punya keyakinan sendiri,harusnya jangan saling memojokan antar ormas…penyusupan-penyusupan ideologi semacam ini yang menghancurkan umat Islam..dan pemerintah pun harus berbenah diri lah!bukan rahasia umum pemerintah ini kurang tegas dalam segala bidang
Setuju. Didalam Al Qur’an sudah ditetapkan cara memulai awal bulan, yaitu Surah Al Baqarah:189. Sangat definitif.”Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu dan haji (menentukan waktu haji pada bulan Zulhijah).”. Wujudul hilal adalah hilal itu sendiri, yang salah jika wujudul qamar dikatakan sebagai wujudul hilal, dimana qamar berdasar hisab diketahui diatas ufuk tetapi belum terlihat sabitnya (lengkungan tipis pantulan sinar matahari). Sedangkan hilal adalah qamar yang telah memantulkan lengkungan tipis akibat pantulan sinar matahari. Jadi dasar hukum yang sangat definitif telah ditetapkan dalam Al Qur’an pada surah Al Baqarah:189 tersebut. Dimana bulan Sabit = Hilal sebagai tanda awal waktu, bukan wujudul qamar diakui sebagai wujudul hilal. Dari sisi bahasa saja sudah salah menyamakan wujudul qamar = wujudul hilal. Yang betul Qamar= Bulan, Hilal=Bulan sabit. Wassalam.
Subuhanallah, Sungguh Allah menciptakan perbedaan itu sebagai ujian bagi kita semua, apakah kita akan larut dengan perbedaan itu yang tentunya akan membuat kita tidak akan pernah berakhir untuk saling menjatuhkan ataukah kita larut dengan pencipta perbedaan itu sendiri yaitu Allah, Lalu bagaimanakah pengertian bahwa perbedaan itu adalah rahmat ? Sebagai orang awam saya mendukung kedua pendapat penentuan awal ramadhan itu, tetapi saya tetap mencari sandaran kedua pendapat itu, setiap kali ada perbedaan pendapat penentuan awal ramadhan maka patokan saya untuk melihat yang mana yang betul-betul pas dengan menunggu datangnya bulan purnama. Kalaulah bulan purnama muncul sebelum jam 12 malam maka itu berarti masuk hitungan 15 hari puasa pada hari itu, tetapi kalau bulan purnama muncul setelah jam 12 malam maka hitungan 15 hari puasa masuk dalam hitungan esok harinya. Di situlah baru saya hitung mundur, dimana jatuhnya tanggal 1 ramadhan yang betul berdasarkan masing-masing pendapat apakah yang dihitung atau yang dilihat. sebagai contoh pada bulan ramadhan 1433 H tahun 2012 ini, Purnama jatuh pada tanggal 3 Agustus 2012 dimana purnama muncul setelah sholat magrib. Dan setelah saya hitung mundur, ternyata 1 ramadhan itu jatuhnya hari Jum’at 20 Juli 2012. Andaikan Purnama terjadi di hari sabtu 4 Agustus 2012 maka benarlah penetapan 1 ramadhan itu tanggal 21 Juli 2012, Dan ini bukan sekali ini terjadi saya amati, tapi setiap kali terjadi perbedaan maka penetapan pemerintah itu selalu maju satu hari di tanggal 2 ramadhan sebagai awal puasa. Tapi saya tidak ingin menyalahkan pemerintah, karena itulah produk dari para ulama kita yang merupakan hasil ij’ma mereka dalam menetapkan awal ramadhan, dan saya tidak membela muhammadiyah yang selalu duluan menetapkan awal ramadhan. karena dua-duanya punya dasar.Semoga Allah mengampuni kita semua dan menerima amal ibadah kita semua Amin ya rabbal alamin