Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
اتقوا الله واعدلوا بين أولادكم
“Bertaqwalah kepada Allah, dan berbuat adil-lah kepada anak-anakmu…” [HR. Bukhari في كتاب الهبة برقم 2398.]
Filed under: Hadits
November 15, 2009 • 12:45 pm 1
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Bertaqwalah kepada Allah, dan berbuat adil-lah kepada anak-anakmu…” [HR. Bukhari في كتاب الهبة برقم 2398.]
Filed under: Hadits
November 11, 2009 • 11:27 pm 0
Dari Anas bin Malik, Kami bertanya kepada Nabi, “Wahai Rasulullah, apakah sebagian kami boleh membungkukkan badan kepada orang yang dia temui?”. Rasulullah bersabda, “Tidak boleh”. Kami bertanya lagi, “Apakah kami boleh berpelukan jika saling bertemu?”. Nabi bersabda, “Tidak boleh. Yang benar hendaknya kalian saling berjabat tangan” (HR Ibnu Majah no 3702 dan dinilai hasan oleh al Albani).
Filed under: Hadits
Oktober 30, 2009 • 6:15 am 0
1. Pertengahan Betis
Dari ‘Aun bin Abi Juhaifah, dari Ayahnya[2] berkata: Aku melihat Nabi shallallhu’alaihi wasallam memakai pakaian berwarna merah dan sehingga aku melihat putih betisnya.
Juga sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, Read the rest of this entry »
Filed under: Hadits
Oktober 15, 2009 • 10:04 am 0
“Abu Hurairah telah menceritakan bahwa suatu hari Rasulullah mencium al-Hasan sedang dihadapan beliau saat itu terdapat al-Aqra’ bin Haabis yang sedang duduk, lalu al-Aqra berkata, “Sesungguhnya saya punya sepuluh orang anak, tetapi saya belum pernah mencium seorang pun di antara mereka.” Rasulullah memandang ke arahnya dan bersabda, “Barangsiapa yang tidak punya rasa belas kasih, niscaya tidak akan dikasihani.”
[Shahih Bukhari, muhammad bin Ismail al-Bukhari, Juz. V, no. hadits 5651, Dar Ibn Katsir, Beirut, hal. 2235]
Filed under: Hadits
September 16, 2009 • 9:11 am 0
Hadits
الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُوْمُوْنَ, وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُوْنَ, وَاْلأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّوْنَ
“Puasa itu adalah di hari kalian (umat Islam) berpuasa, berbuka adalah pada saat kalian berbuka, dan berkurban/ Iedul Adha di hari kalian berkurban.” [HR. at-Tirmidzi no. 697, dishohihkan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam as-Silsilah ash-Shohihah no. 224]
FIQIH HADITS :
At-Tirmidzi berkata: “dan sebagian ahli ilmu menafsirkan hadits ini, mereka berkata: makna hadits ini adalah berpuasa dan berbuka adalah bersama jama’ah dan mayoritas orang (Ummat Islam).”
Ash-Shon’ani berkata dalam Subulus Salam (2/27) : “Pada hadits ini ada dalil bahwa yang teranggap dalam menetapkan hari raya adalah kebersamaan manusia. Dan bahwasanya seorang yang menyendiri dalam mengetahui masuknya hari raya dengan melihat hilal tetap wajib mengikuti kebanyakan manusia. Hukum ini harus dia ikuti, apakah dalam waktu shalat, ber’iedul Fithri atau pun berkurban”.
September 4, 2009 • 9:28 pm 0
Oleh: Syaikh Salim Bin Ied Al Hilaly dan Syaikh Ali Bin Hasan Bin Ali Bin Abdul Hamid
Keutamaannya sangat besar, karena malam ini menyaksikan turunnya Al Quran Al Karim yang membimbing orang-orang yang berpegang dengannya ke jalan kemuliaan dan mengangkatnya ke derajat yang mulia dan abadi. Ummat Islam yang mengikuti sunnah Rasulnya tidak memasang tanda-tanda tertentu dan tidak pula menancapkan anak-anak panah untuk memperingati malam ini (malam Lailatul Qodar/Nuzul Qur’an, red), akan tetapi mereka bangun di malam harinya dengan penuh iman dan mengharap pahala dari Allah.
Inilah wahai saudaraku muslim, ayat-ayat Qur’aniyah dan hadits-hadits Nabawiyyah yang shahih yang menjelaskan tentang malam tersebut.
1. Keutamaan Malam Lailatul Qadar
Cukuplah untuk mengetahui tingginya kedudukan Lailatul Qadar dengan mengetahui bahwasanya malam itu lebih baik dari seribu bulan, Allah berfirman (yang artinya),
[1] Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan. [2] Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? [3] Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. [4] Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. [5] Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. [QS Al Qadar: 1 - 5]
Agustus 25, 2009 • 3:28 pm 0
Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah, tidak hanya bagi masyarakat pada umumnya bahkan berkah juga bagi para pendakwah. Di bulan Ramadhan ini mereka (para da’i) disibukkan dengan jadwal safarinya sehingga tidak selektif dalam menyampaikan hadits dan tak jarang dari mereka yang tanpa disadari telah ikut serta berperan aktif dalam penyebaran hadits-hadits dhaif/lemah bahkan maudhu’/palsu di tengah-tengah masyarakat yang notabene sangat awam dalam bidang hadits.
Karenanya adalah sangat tepat jika kita kembali meneliti derajat hadits-hadits yang akan kita sampaikan kepada umat Islam lainnya sehingga apa yang kita katakan tidak lain adalah al-Haq (kebenaran). Untuk inilah Imam Bukhari dalam kitab shahihnya membuat satu judul bab “Al-Ilmu qablal Qaul wal Amal; ilmu itu sebelum berbicara dan beramal” karena beliau memberikan apresiasi yang begitu tingginya terhadap ilmu dan sikap ilmiah. Berikut ini adalah beberapa hadits dhaif yang sering sekali disebarluaskan oleh para pendakwah di bulan Ramadhan ini.
Agustus 23, 2009 • 12:11 pm 0
Menceritakan kepada kami Ibrahim bin al-Hajaj as-Samiy, Abu Tsabit Abdul Wahid bin Tsabit, dari Tsabit, dari Anas, ia (Anas) berkata: “Adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyukai berbuka dengan 3 (tiga) bulir kurma atau sesuatu yang tidak terkena api (dimasak).” [HR. Abu Ya’la 1/163]
Keterangan Hadits:
Agustus 22, 2009 • 6:45 pm 0
تعليق شعيب الأرنؤوط : إسناده صحيح على شرط مسلم , رجاله ثقات رجال الشيخين غير جعفر بن سليمان فمن رجال مسلم
Dari Anas bin Malik, ia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa berbuka dengan Rutab (kurma segar) sebelum beliau shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan shalat, dan jika tidak ada Rutab, maka beliau berbuka dengan Tamar (kurma kering), dan jika tidak ada Tamar, maka beliau meminum seteguk air”. [HR. At-Tirmidzi 696; Ahmad 3/164]
Syeikh Syu’aib al-Arnauth berkata, Sanadnya Shahih atas syarat muslim, para perawinya Tsiqah dan perawi Syaikhain selain Ja’far bin Sulaiman, ia adalah perawi dari Imam Muslim.
Agustus 18, 2009 • 5:34 pm 1
Berpegang pada hitungan falak (hisab) dalam menentukan awal berpuasa dan mengenyampingkan rukyatul hilal. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Berpuasalah karena melihatnya (bulan) dan berbukalah karena melihatnya, maka jika (tidak dapat melihatnya karena) tertutup mendung, genapkanlah bilangannya (menjadi 30 hari).” [HR. Muslim (2567)]
Komentar