Namun di sisi lain, sebagian orang salah dalam memahami ayat-ayat rejeki ini, lantas mereka hanya berpasrah diri, berpangku tangan dan bermalas-malasan dengan anggapan bahwa rejeki telah diatur dan Allah akan memberikan makan kepada mereka.
Mereka merasa cukup dengan mondar-mandir dari satu masjid ke masjid yang lain, tidur-tiduran dan meninggalkan pekerjaan mereka. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bekerja, berdagang dan aktivitas lainnya. Seandainya pemahaman Rasulullah seperti yang mereka pahami, tentu kita tidak akan menjumpai sebuah haditspun tentang praktik jual-beli, bercocok tanam dll.
Filed under: Tafsir










Komentar